Pernah merasa dilupakan orang??
Padahal kita yang membantunya, kita yang menolongnya.
Bahkan saat orang lain menjauh, kita yang bersedia menemani.
Namun saat semua sudah membaik.
Dia sudah meningkat derajat. Dimana-mana orang menerimanya dan rezekinya mengalir deras.
Lalu kita ditinggalkan dan dilupakan.
Pernah mengalami itu?
Dan kita teramat sakit hati, sampai-sampai harus cerita kemana-mana bahwa..
"Dulu, saya yang nolong dia."
"Saya yang bukain dia jalan."
"Saya yang begini dan begitu buat dia saat orang lain nggak ada yang mau.."
Dan ketika hal itu terjadi. Sifat yang kita sematkan untuk mereka adalah..
"Orang yang tak tahu diri, kurang ajar dan tak tahu balas budi."
Pertanyaannya sekarang.
Benarkah orang itu kurang ajar??
Benarkah orang itu nggak tahu diri??
Atau, jangan-jangan kita yang terlalu menganggap diri penting dan berjasa?
Terlalu fokus dengan banyak kata "Saya".
Saya sudah begini.. Saya sudah begitu.
Saya sudah nolong.. Saya yang paling berjasa.
Dan jangan-jangan, begitulah yang terjadi pada sebagian perasaan sakit hati yang akhirnya kita alami.
Bisa jadi.. semua terjadi lantaran kita terlalu berharap diingat. Terlalu berharap dibalas. Dan terlalu menganggap penting peranan kita dalam kehidupan orang lain.
Padahal Alloh sudah berbaik sangka membuat kita menjadi wasilah berubah baiknya orang lain. Dan itu tetap tercatat sampai kelak yaumul hisab. Pahalanya besar karena pintunya bernama ikhlas.
Namun seketika terhapus catatan itu hanya lantaran "Semua karena aku".
Mari kembali sadar..
Bahwa kita ini hanyalah "property"-nya Alloh. Mau dipakai kayak apapun.. fokuslah pada penilaian Alloh saja.
Alloh yang lebih bisa membalas kita jauh lebih istimewa. Daripada berharap kepada manusia yang kemampuan membalasnya tidak seberapa.