Di antara ciri iman yang paling jelas itu adalah.. tidak kecewa dengan takdir buruk.
Kenapa bukan sholat..??
Kenapa bukan puasa..??
Karena ada banyak orang yang sholat kadang dalam keadaan tidak iman. Bisa karena ikut-ikutan, malu sama yang lain, sekedar menggugurkan kewajiban.
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَا دِعُهُمْ ۚ وَاِ ذَا قَا مُوْۤا اِلَى الصَّلٰوةِ قَا مُوْا كُسَا لٰى ۙ يُرَآءُوْنَ النَّا سَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Alloh, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Alloh kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa': 142)
Pun demikian dengan puasa..
Ada banyak orang puasa karena yang lain juga puasa. Malu kalau gak puasa.
Tapi kalau sudah urusan menerima takdir buruk..??
Hanya orang yang beriman betul yang bisa menerimanya dengan ridho.
Hanya hati yang beriman lah yang kemudian bisa dengan tenang menjalaninya, lalu memaksa dirinya tunduk dan bahagia.
Ia tahu betul.. bahwa ini (takdir buruk) pun dari Alloh.
Nggak mungkin salah.
Nggak mungkin keliru.
Tak salah jika iman terhadap takdir baik dan takdir buruk Alloh dan RasulNya jadikan sebagai rukun iman ke-6.
Yang paling akhir secara urutan.
Seolah menyiratkan pesan..
Bisa jadi.. bagi sebagian besar orang, inilah tantangan terberat dalam hidupnya.
Menerima yang baik dan enak-enak itu tentu saja mudah. Tapi yang buruk??
Butuh iman dalam hati.
Karena itu kawan..
Apapun takdirmu. Terima dengan baik.
Lapangkan hatimu.
Paksa tunduk dengan tenang menerima dan ikhlas.
Jangan bertanya..
Jangan protes..
Jangan kecewa..
Tetap syukuri.
Cari cara menikmati takdirmu.
Cari cara agar bisa tetap baik sangka kepada Alloh.
Lalu gambarkan dengan wajahmu yang tersenyum sebagai wujud ridho dan tawakalmu kepada Alloh. Dan tetap lanjutkan hidupmu dengan baik dan penuh kesabaran.