Memaafkan itu tidak harus melupakan..
Alloh Azza wa Jala tahu kamu manusia yang punya hati. Yang bisa sakit dan terluka.
وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَ صْلَحَ فَاَ جْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Alloh. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS. Asy-Syura; 40)
Bahkan..
Boleh kita membalas berbuatan buruk kepada diri dengan balasan setimpal. Islam amat sangat logis.
Disakiti.. jangan diam.
Boleh kok melawan. Balas balik. Agar orang tahu bahwa disakiti dan dijahati itu nggak enak.
Tapi Alloh memberikan pilihan yang lebih baik.. Yakni memaafkan.
Maka, syarat memaafkan itu tidak harus melupakan
Memaafkan tidak harus melupakan. Yang terpenting adalah perasaan ikhlas dan ridho atas apa yang sudah terjadi. Kesadaran atas bagaimana sudah terlanjur.
Dan memaafkan itu, bentuk upaya untuk melepaskan diri dari siklus dendam.
Sebab kalau semuanya bales-balesan terus.. nggak ada ada habisnya.
Kayak film-film kungfu jaman dulu.
Muridnya balas dendam untuk gurunya. Nanti murid dari pihak lawan balas lagi. Teruuuussss gitu sampai berseri-seri.
Cukup jadikan pelajaran..
"Besok-besok harus berhati-hati kalau berurusan dengan si fulan."
Orang yang memaafkan itu..
Meski hati masih sakit, pikiran masih teringat kejahatan yang mereka lakukan.. namun memilih untuk bisa menentukan sikap bahwa,
"Saya ridho.."
"Dan saya tidak akan membalas perbuatannya."
"Cukup sampai di sini."
Begitulah kira-kira urutan teknisnya.
Dan jika masih terlalu sakit untuk sekiranya harus kembali berinteraksi meski sudah memaafkan. Maka coba dulu menjauh, jaga jarak.
Agar hati tidak terpancing dengan memori yang mengingatkan atas luka.
Dan ini pernah Rasulullah Shollallahu'alaihi wassallam lakukan..
Ketika Rasulullah ﷺ menghindari untuk melihat wajah Wahsyi bin Harb yang telah mencelakai paman kesayangan beliau Sayyidina Hamzah Radhiallahu'anhu.
Namun.. meski demikian, Rasulullah tidak pernah jahat kepada Wahsyi, membalasnya ataupun mendoakan wahsyi dengan doa yang jelek.
Yuk belajar memaafkan..
Meski berat untuk dilupakan. Setidaknya, jangan terbersit niat melukainya. Dan tak perlu mendoakan yang jelek-jelek untuknya.
Jaga jarak boleh.. tapi ikutan jadi jahat?? Jangan.