Dulu guru saya menasihati..
Jangan ngajar dulu sebelum menikah. Saya ngeyel.
Tetap ngajar.
Alhasil.. Saya menemui banyak kekosongan dalam ilmu dan pemahaman.
Tahu, tapi hampa.
Sekarang saya baru paham maksudnya. Kenapa disuruh nikah dulu. Ternyata agar ngerasain hidup beneran.
Karena terkadang..
Saat diri masih bujang. Membawakan materi tentang sabar itu gampang.
Menyampaikan syukur itu ringan.
Membawakan materi tentang ikhlas itu seperti mudah.
Begitu menikah..
Baru tahu rasanya. Ternyata sabar itu banyak sekali ujiannya.
Ketika rumah tangga diuji dengan beragam dinamika yang membolak-balikan hati dan perasaan.. masih mampukah untuk sabar di hadapan orang yang kita sayang? Yang di saat yang sama, mungkin dia juga yang memancing amarah dan kekesalan?
Ketika rezeki lagi sempit dan anak butuh makan, masih bisakah menerapkan syukur dan sabar..??
Saat kebutuhan dapur sedang mendesak, istri menanti nafkah.. masih bisakah hati ikhlas??
Betapa ternyata perjalanan hidup Rasulullah Shollallahu'alaihi wassallam benar-benar sempurna diatur oleh Alloh.
Beliau lulus dalam ujian sosial di masyarakat saat muda hingga digelari Al Amin.
Dan ditakdirkan menikah dalam rangka mematangkan emosi beliau sebelum menjadi nabi.
Karena ujian dakwah sebenarnya adalah ketika menghadapi keluarga.
Maka beliau ﷺ berpesan..
"Yang paling baik di antara kalian, adalah yang paling baik kepada keluarganya."
Dan setelah paham..
Saya akhirnya meneruskan nasihat ini ke murid-murid dan circle kami.
Kalau mau serius hidup di jalan dakwah.. menikahlah dulu.
Agar kau tahu rasanya menggunakan ilmu. Agar kau tahu rasanya menata hati.
Agar kau paham tentang manis pahitnya hidup, sebelum menasihati orang lain.