Ini kisah nyata..
Ketika kami sedang berhaji. Ada salah seorang jama'ah yang hobinya setiap kali bertemu dengan jama'ah lain, selalu bertanya.
"Kemarin habis berapa..??"
Hal ini lantaran karena jalur kami memang bukan jalur reguler pemerintah. Maka memang ada kemungkinan ada yang dapat beragam angka berbeda.
Kalau mendapatkan jawaban yang lebih tinggi. Beliau berbangga.
Kalau dapat jawaban yang angkanya lebih rendah. Beliau sedih dan kecewa. Bahkan sampai protes ke pihak Travel.
Di situ saya belajar..
Bahwa salah satu sebab keselamatan yang jarang diamalkan, padahal hal ini sebenarnya amat sangat sederhana adalah..
Jangan terlalu berambisi untuk mencari tahu tentang kehidupan orang lain.
Karena jika kau mendapatinya lebih baik darimu, hatimu akan tergoda untuk hasad. Dan lisanmu terdorong untuk menebar fitnah.
Jika engkau mendapati ia lebih buruk darimu, engkau akan terpancing untuk ujub. Dan lisanmu terdorong untuk ghibah.
Hasil akhirnya..
Hati makin susah bersyukur dan jauh dari sabar.
Terlalu banyak melihat kehidupan orang lain seringkali menjadi awal pembuka hilangnya kenikmatan yang sudah di tangan.
Seperti contoh di atas..
Sudah berhasil berangkat berhaji sampai ke tanah suci, tapi seketika kenikmatan itu seolah hilang hanya karena angka biaya haji orang lain lebih rendah.
Benarlah kata sebagian ulama..
Bahwa terlalu banyak tahu urusan orang lain, membuat hati kita rentan tidak selamat. Rawan terjangkit iri dan bangga diri.