Kali ini saya pingin nulis random tentang apa yang saya lihat hari ini. Semoga bisa kita ambil hikmah pelajarannya.
Ceritanya.. saya sedang makan di satu tempat makan. Dan tak jauh dari tempat saya, nampak seseorang yang setiap kali pelayan datang mengantar makanan, sambil mengkonfirmasi pesanannya.
Si pelanggan ini hanya berdehem..
"Hmmm.." tanpa sedikit pun melihat pelayan yang dengan senyum dan ramah melayani. Matanya tetap tertuju pada gawai yang dipegangnya.
Gemes rasanya melihat kejadian itu.
Apa susahnya sih menatap wajah mereka sebentar..?? membalas senyumannya sambil mengucapkan
"Terimakasih ya mbak.."
"Terimakasih ya mas.."
Ini pesanannya ya pak..
"Oo iya benar. Terimakasih banyak.."
Letakkan dulu HP mu.
Ganti kata "Hmmm..." dengan "iya mas", "benar mbak". Dan imbuhi dengan apresiasi singkat dengan kalimat.
Pak..Bu..
Mereka juga manusia.
Andai disuruh memilih.
Pasti mereka juga lebih senang untuk duduk dan dilayani. Siapa yang mau lelah melayani orang lain, membersihkan bekas makanan kita, merapikan meja dan menyapa dengan wajah ramah meski kadang hati sedang tidak baik-baik saja.
Mereka adalah anak dari seorang ayah. Juga anak dari seorang ibu.
Mungkin malah mereka adalah seorang ayah atau seorang ibu yang sedang berjuang mencari nafkah. Meletakkan ego, gengsi dan harga diri.
Mereka adalah manusia yang sedang berjuang. Bayangkan jika itu keluargamu.
Karenanya.. tatap wajah mereka sebagai manusia. Bukan sebagai bagian dari SOP pelayanan yang bisa kita abaikan.
Bahkan Nabi Muhammad sholallahu'alaihi wa salam saja sampai ditegur Alloh hanya karena memasang wajah yang sedikit masam kepada Abdullah bin Ummi Maktum.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (١) أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (٢)
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya." [QS. Abasa: 1-2]
Menariknya..
Bahkan yang datang itu Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Yang tidak melihat wajah Rasulullah sholallahu'alaihi wa salam, apakah sedang senyum atau cemberut. Tapi ternyata.. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak suka.
Lha kita?? Nabi bukan. Orang sholeh juga masih jauh. Lantas apa alasan kita untuk tidak ramah kepada sesama manusia. Bahkan kepada mereka yang melayani kebutuhanmu??
Manusia itu disebut manusia karena tahu adab dan tata krama. Punya budaya dan berbudaya. Dan salah satunya adalah memanusiakan manusia dengan senyum ramah.
Siapa tahu.. ramahmu mampu mengisi hati mereka dengan bahagia. Menggantikan lelahnya menjadi semangat dan kepercayaan diri yang tinggi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim)