Saya belajar.
Tidak ada satupun petani di dunia ini yang punya ilmu menumbuhkan batang pohon atau memunculkan buah. Petani terhebat pun, ilmunya hanya sebatas mengetahui syarat-syarat apa saja yang dibutuhkan sebuah benih atau bibit untuk tumbuh.
Dan dengan ilmu itu ia menyiapkan tanahnya agar gembur, memberikan air yang cukup, pencahayaan yang baik dan menambahkan pupuk agar subur. Lalu melindungi si benih dari cuaca dan hama pengganggu. Cukup..
Ilmunya hanya sampai disitu.
Sisanya.. adalah urusan Alloh.
Alloh Azza wa jala yang menumbuhkan batang, membesarkan tanaman, menumbuhkan berapa jumlah tangkainya dan mengeluarkan buah dari tangkai atau akarnya.
Dan itupula yang kami rasakan..
Seolah baru kemarin kami memulai amalan berbagi nasi di hari jumat ini. Dan dulu kami memulainya seorang diri. Namun hari ini, Alloh tumbuhkan.. SiJum telah memiliki lebih dari 420an Dapur Operasional di seluruh Indonesia, di 170an kota/Kabupaten dan Timor Leste.
Dari hanya sendirian, sekarang menjadi ribuan relawan. Bukan kami yang hebat.. Tapi Alloh lah yang menumbuhkan.
Termasuk dihadirkannya kawan-kawan sekalian sebagai donatur sijum yang senantiasa istiqomah. Terima kasih saudaraku,, terima kasih..
Ini seolah menjadi pengingat dan penyemangat, bahwa bagitulah hidup. Kita tidak pernah bisa memastikan hasil. Sama sekali..
Kita tidak punya kemampuan untuk menentukan hasil.
Yang bisa kita lakukan hanya menanam benih kebaikan, dan menjaganya dengan beragam amal untuk membantu pertumbuhannya.
"Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?" (QS. Al-Waqi'ah: 58-59)
Maka siapapun antum hari ini, yang barangkali sedang mengharap buah dari upaya kebaikannya (terwujudnya hajat).
Kawan-kawan sudah punya benihnya. Apa itu? Amalan sedekah yang istiqomah setiap jumat adalah benihnya.
Maka jaga dengan hal lain, agar kelak benih itu tumbuh dan berbuah.
Dengan apa saja??
1. Dengan baik sangka kepada Alloh
2. Dengan bersabar kepada takdir Alloh
3. Dengan jaga sholat dan tambahkan amalan sunnah lainnya
4. Lalu istiqomah meneruskan amal
Untuk poin satu dan dua sudah sering saya bahas. Dan tentu saja kawan-kawan juga sering mendapatkan kajian dan nasihat seputar baik sangka dan bersabar atas takdir Alloh.
Maka di kajian kali hari ini, saya akan fokus membahas poin ke 3 dan ke 4.
Yaitu menjaga bibit kebaikan dengan amalan sunnah.
Alhamdulillah, saya banyak melihat kawan-kawan sudah ringan dalam bersedekah. Namun terkadang, saya juga punya rasa khawatir. Kekhawatiran saya adalah..
Tatkala hajat hidup yang diinginkan belum juga kunjung dikabulkan.
Saya khawatir bahwa kawan-kawan mulai kecewa dan mulai menghentikan amalnya. Lalu berkata dalam hati,
“Percuma sedekah, tapi nggak ada hasil”.
Jujur saja, ini yang saya khawatirkan.
Meski saya pribadi sangat yakin bahwa setiap sedekah pasti dibalas dan berbuah. Dan sudah tak terhitung banyaknya relawan dan donatur sijum yang hajatnya sudah dikabulkan.
Mulai dari jodoh, pekerjaan, anak keturunan, rezeki dan solusi. Saya bisa berikan ratusan bukti. Namun lagi-lagi, urusan kapan dikabulkannya doa adalah mutlak kehendak Alloh. Dan tingkat kesabaran setiap orang mungkin berbeda. Selain itu, keyakinan tak bisa dipaksakan.
Untuk itu, setidaknya lewat Kajian ini saya mengingatkan bahwa sedekah itu layaknya bibit. Butuh siraman air, pupuk dan nutrisi lain agar benih itu tumbuh dengan baik. Dan itu semua adalah amalan sunnah lainnya.
Dengan kata lain, kalau sudah rajin sedekahnya, jangan kendor dhuhanya.
Kalau sudah rajin sedekahknya, jangan tinggalin tahajudnya.
Kalau sudah rajin sedekahknya, jangan abaikan istighfarnya.
Kalau pingin buahnya tumbuh (hajatnya terkabul dan terwujud) rawat sedekahnya dengan amalan sunnah lainnya. Jangan sampai kita kecewa dengan amal, tapi sebenarnya, bersebab dari kesalahan kita yang tak tahu cara merawat amal.
Ibarat jengkel nanam cabe nggak tumbuh-tumbuh, ternyata sebab tanah yang kita siapkan tidak bagus, pupuk dan airnya tidak cukup.
Yang berikutnya yang harus diperhatikan adalah lanjutkan amalnya.
Sebagian besar kesalahan kita adalah, suka menghentikan amal jika setelah sekian lama seolah tidak ada hasil. Padahal mungkin saja, di saat kita berhenti, itu adalah titik terdekat dari buahnya amal.
Ibarat ngebor sumur, padahal tinggal semeter keluar air. Tapi karena kita menghentikan tidakan. Memutuskan untuk berhenti, maka semua jadi sia-sia.
Sebab itu, jangan menghentikan amal meski hajat belum juga terlihat. Apalagi menghentikan amal hanya karena hajat sudah terwujud. Ini lebih rugi lagi..
Sebab selama ini punya tabungan amal lantaran dunia. Begitu dunia dikasih, amalan akhirat malah ditinggal. Ini sungguh kerugian yang besar.
Kita semua pasti punya hajat dan keinginan.
Tugas kita adalah menanam benih dan syaratnya.. lalu sabar menunggu Alloh yang menumbuhkannya.
Asal semua syarat sudah tepat, insyaallah tinggal menunggu waktu.
Sama seperti Palang Pintu Kereta. Pernahkah kawan-kawan ketika perjalanan berhenti karena jalanan ditutup oleh Palang Pintu Perlintasan Kereta Api??
Kalau sudah begitu.. yang bisa kita lakukan cuma nunggu. Sebab, kalau nekat menerobos, malah bisa celaka.
Sambil nunggu, daripada menggerutu, lebih baik nikmati saja pemandangannya.. bersyukur.
Lihat kereta api melintas.
Kalau sudah waktunya..
Sudah selesai ujian hidup kita lewat.
Palang pintu pasti akan dibuka.
Kita bisa lewat kembali.
Rezeki akan kembali mengalir..
Amalan berbagi Nasi Jumat ini bukan semata-mata untuk mereka yang membutuhkan makanan. Tapi sebenarnya adalah amalan yang kita butuhkan.
Kita yang butuh buah baik kehidupan..
Kita yang butuh hajat-hajat kita terkabul..
Maka jaga dengan amalan terbaik.. Dan istiqomah.
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Alloh”, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (al-Ahqof: 13-14).