Salah satu harapan yang paling ingin dicapai oleh setiap pasangan dalam berumahtangga adalah mampu membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah.
Sebab, keluarga yang samawa.. jadi sebabnya rumah terasa begitu tenang dan menyenangkan. Karena rumah yang penuh ketenangan dan nyaman, adalah rumah yang bisa jadi sebab munculnya banyak kebaikan.
Suami nyaman berpikir dan bekerja..
Istri bisa istirahat setelah lelah mengurus rumah..
Anak-anak bisa dididik dengan baik dan penuh adab..
Makan rasanya enak, tidur nyenyak..
Rumah sempitpun bisa terasa lapang.
Tapi kalau rumah sudah terasa tak nyaman, alhasil yang akan muncul adalah kemarahan, pertengkaran, pendidikan anak pun berantakan. Rumah lapang akan terasa sempit dan panas.
Saya pernah ditanya tentang bagaimana caranya membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah..
Jawab saya..
Jika keluarga itu punya budaya maaf-maafan tanpa harus menunggu lebaran.
Sebab, salah satu kunci ketenangan berumah tangga adalah apabila seorang istri tidak tenang (ia gelisah dan gusar) tatkala ia belum mendapatkan maaf dari suaminya.
Mungkin bisa jadi bukan istrinya yang salah. Namun melihat suaminya murung saja. Ia akan meminta maaf kepada suaminya.
Mungkin sang istri yang sebenarnya berhak mendapatkan permintaan maaf dari sang suami. Namun seorang istri sholehah tahu.. Bahwa maaf suaminya lebih penting, karena itu menyangkut surganya. Sementara egonya, hanya untuk kepuasan hatinya.
Dan suami yang sholeh jauh lebih tahu..
Jika sang istri telah meminta maaf, maka ia harus lebih lembut dalam memperlakukannya. Ia pun akan meminta maaf dan berterima kasih atas pengorbanan istrinya dalam menjaga harga dirinya.
Bahkan tak salah jika harus mulai meminta maaf terlebih dulu.
Karena harga diri suami lah yang terkadang menahan seorang laki-laki untuk mengucapkan maaf. Maka laki-laki juga harus biasa meminta maaf.
Lawan ego dan letakkan.
Saling menjaga dan saling mengerti peran masing-masing adalah langkah yang benar menuju rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah.
Kalau sudah paham, pasti akan saling berebut meminta maaf. Dan itulah romantisme tingkat tinggi dalam keluarga.
Pernah satu waktu.. Rasulullah Sholallahu'alaihi Wassalam pulang kemalaman. Bunda Aisyah Radhiyallahu 'anha tertidur menunggu beliau.
Dengan ketukan lembut, Rasulullah membangunkan istrinya. Namun tak ada sahutan. Maka Rasulullah pun tidur di depan pintu. Sementara bunda aisyah tertidur di balik pintu..
Menjelang subuh, Bunda Aisyah membuka pintu dan mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertidur di luar rumah..
Maka seketika beliau meminta maaf karena lalai sampai tertidur.
Rasulullah Sholallahu'alaihi wassalam kala itu punya alasan untuk marah.. tapi melihat istrinya meminta maaf. Beliau pun menyusul dengan permintaan maaf karena telah pulang sedikit larut. Kedua suami istri teladan inipun saling bermaafan.
Padahal masing-masing punya alasan yang dibenarkan untuk marah.
Yang satu bisa bilang, "kenapa ngetuknya kurang keras..??"
Yang satu bisa berkata, "diketuk berkali-kali kok nggak bangun.."
Tapi itu tidaklah terjadi. Sebab beliau berdua tahu.. rumah tangga yang nyaman, dimulai dari rumah yang minim emosi.
Dan minimnya emosi.. dimulai dari kebiasaan mudah meminta maaf dan memaafkan.