Tidak semua yang kita lakukan itu harus bersifat Transaksional..
Karena hidup di dunia ini bukan selalu tentang urusan "Saya dapat apa".
Karena saya belajar, setelah sekian tahun memikirkan semua yang kami alami..
Ternyata, ada banyak urusan hidup itu yang jadi mudah dan mengundang keberkahan lantaran kita berpikir, "Saya sudah memberi apa?"
Saya cerita pengalaman saya..
Tahun 2005, saya kerja di sebuah Warnet di Kaliurang Jogja. Singkatnya, saya kerja karena ingin nyari duit, alhasil yang didapatkan pun tak seberapa.
Gaji saya waktu itu hanya 250an ribu saja.
Namun takdir membawa saya akhirnya belajar untuk ngabdi..
Ketika di Pesantren, yang mau tak mau lebih banyak mikir ngabdinya daripada dapatnya. Di situlah pola pikir mulai berubah.
Awalnya tak nyaman.. karena biasa selalu ngukur...
"Kalau melakukan ini saya dapat apa".
"Kalau saya ngerjain yang lebih ada tambahan atau bonus apa".
Tapi begitu di pondok..
Saya akhirnya terdidik.. bahwa hidup itu bukan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya.. tapi tentang memberi sebanyak-banyaknya.
Meski gaji tak beda jauh..
Tapi saya merasakan betul keberkahan dari apa yang saya dapatkan.
Ilmu dari guru-guru alim, peluang kebaikan, semangat berbuat baik, kebiasaan mikir yang baik-baik.. sampai lingkungan yang akhirnya mengantar ke teman-teman yang hidupnya pun isinya bicara tentang pengabdian dan pengabdian.
Dan ajaibnya.. justru rezeki yang datang malah lebih banyak dan lebih cukup rasanya daripada saat dulu bekerja dengan niat nyari uang.
Rupanya itulah yang mengundang keberkahan.
Saya berprasangka begini..
Karena Alloh melihat kita hidupnya berpikir untuk selalu memberi (mengeluarkan), bukan transaksi. Maka urusan untuk memasukan rezeki dalam hidup itu langsung jadi urusannya Alloh.
Ada saja jalan-jalan rezeki yang Alloh kemudian bukakan.. bahkan saat kita tidak mencarinya.
Seperti pagi ini misalnya..
Ada seorang sahabat yang dengan entengnya transfer padahal gak ada akad gak ada cerita.. tiba-tiba bilang.
"Buat hadiah"
Saya tertegun..
Saya ini habis ngapain, kerja juga enggak untuk beliau. Ngasih keuntungan apa juga enggak untuk beliau. Kok beliau memberi saya?? Saya ini habis ngapain ya Rabb.
Saya merasakan betul bahwa ternyata..
Mungkin inilah berkah dari kami dipaksa untuk selalu mikirin orang lain.
Semoga bukan bagian dari Riya'.. namun tahadus bini'mah atas senangnya saya diberikan kesempatan untuk terus mikir orang lain.
Ternyata benar.. hidup itu tidak selalu transaksional.
Tidak selalu yang kita keluarkan harus dibayar oleh yang menerimanya. Karena ketika kita hanya berpikir,
"Sudah melakukan apa untuk orang lain.." "sudah memberi apa untuk sekitar.."
Maka insyaallah, ada begitu banyak rezeki tak terduga yang Alloh sediakan.
Saya jadi ingat nasihat seorang alim kepada saya..
"SIAPA YANG SELALU BERUSAHA MENYENANGKAN ORANG LAIN.. MAKA ALLOH AKAN MEMBAHAGIAKANNYA.."
Kita cuma nyenenin orang.. tapi balasannya bahagia.
Emang apa bedanya ustadz??
Seneng itu biasanya karena sesuatu. Punya barang baru, kepunyaan baru atau hadiah tertentu. Biasanya sifatnya fisik.
Tapi kalau bahagia.. itu kondisi hati. Tak terikat dengan sebab fisik.
Punya nggak punya.. hati rasanya lapang, longgar dan nyaman. Ini namanya bahagia.
Dan biasanya.. bahagia itu bersifat lebih lama.
Karena hatinya mampu mensetting diri untuk selalu syukur.. apapun keadaannya.