Jika tanpa guru.. kita ini bukan apa-apa.
Maka sudah menjadi kebiasaan para alim adalah, mereka menghormati betul gurunya. Sebab gurunya telah menjadi wasilah datangnya ilmu kepada mereka.
Bahkan, "Wa Thuli Zamani.."
Membersamai guru dalam waktu yang lama adalah satu di antara 6 syarat bagi datangnya ilmu, menurut Imam Syafi'i.
Tulisan ini mengajak jaga hati dan jaga diri.
Hati-hati menghina atau mengolok-ngolok mereka yang punya ilmu.. apalagi jika kita pernah mengambil ilmu darinya.
Seburuk-buruknya ulama..
Pernah ada jasa baiknya. Pernah ada ilmu yang membuat kita mengerti meski hanya satu perkara dalam urusan agama ini.
Imam Syafi’i pernah menceritakan,
"Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, "Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh."
Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati.
Demikian pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah.. pernah berkata.
"Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya."
Maka sekali guru.. selamanya tetap guru.
Jangan karena sedang tak baik keadaannya lantas kita jadikan bahan hinaan atau olok-olokan. Tentu ini bagian dari adab yang hilang.
Ada seorang ulama yang disegani bahkan oleh penguasa ketika itu. Beliau adalah Syeikh Fakhruddin al-Arsabandi. Dalam ketenarannya, ia mengungkap sebuah rahasia atas rahmat Alloh yang luar biasa untuknya...
"Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat (melayani) guruku," ujar sang Imam.
Diketahui beliau selama 30 tahun menyajikan hidangan untuk gurunya tanpa sedikitpun pernah mencicipinya.
Tulisan ini hanyalah keresahan semata. Khawatir, kita jadi termasuk orang yang su'ul adab kepada para guru-guru kita.
Jangan hanya mau menyanjung saat dikenal.
Tapi ikut mencaci saat sang guru tumbang.
Hanya mau mengambil manfaat saat mahsyur. Tapi ikut menjauhi saat tersungkur..
Ini bukan adab mulia seorang murid.
Al Imam Al Ghozali berkata..
"Diantara kesombongan seorang murid kepada guru adalah, ketika ia enggan mengambil manfaat ilmu kecuali dari guru yang tersohor."
Setiap orang mungkin ada salahnya.
Tapi pasti ada pula kebaikannya.
Semoga adab kita baik kepada para guru dan ulama..