Hari ini saya di Chat oleh seorang ibu yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya. Punya 3 anak yang harus dirawat dan dibiayai sekolahnya.
Bukan karena suaminya tidak bertanggungjawab.. Tapi karena Alloh menguji suaminya dengan sakit stroke yang tak lagi bisa beraktivitas.
Ditambah harus merawat ibu mertua yang tinggal sebatang kara.
Chat beliau sederhana ke saya.. tapi membuat saya sempat menitikan air mata.
"Ajarkan saya untuk bisa ikhlas ustadz.."
Saya merasakan betul rasa lelahnya dari cerita beliau. Ini chat begitu singkat kalimatnya..
Tapi tersirat rasa lelah yang sudah nyaris ada dititik puncak batasnya.
Saya yakin.. iman-lah yang membuat beliau bertahan dan memutuskan menghubungi saya dengan permintaan di atas.
Lihat..!! pemintaannya pun bukan minta bantuan lho.
Bukan ngeluh..
Bukan curhat,,
Tapi minta diajari ikhlas.
Kalau bukan karena iman, tidak mungkin ada akhlak yang sedemikian luar biasanya.
Padahal beliau chat saya sudah agak lama. Mungkin lebih dari 3 pekan. Tapi masih sabar dan menyambut baik balasan setelah sekian lama.
Ini juga info untuk kawan-kawan yang chat dan lama belum saya balas.
Maafin ya.. yang masuk bisa ribuan.
Mohon bersabar. Atau chat ulang saja. Mungkin sudah tak bisa lagi terbaca.
Dan kembali ke chat sang ibu ini..
saya pun menjawab, dan semoga jawaban ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua.
Ada 3 jawaban saya untuk beliau sebagai saran menuju untuk belajar Ikhlas. Untuk para wanita.. baca khusus akhir saran kedua.
*****************************
PERTAMA, Sadari bahwa yang menguji itu Alloh.
Ini mindset paling penting, sebab apa?? kalau kita sudah menyadari yang menguji itu Alloh, maka harusnya tak ada rasa khawatir.
Kalau yang menguji itu musuh, boleh kita khawatir karena bisa saja dia punya keinginan untuk menghancurkan kita.
Tapi kalau Alloh yang menguji.. maka tidak mungkin ujian itu bertujuan untuk menghancurkan kita, karena Alloh begitu sayang kepada hambaNya.
Setiap ujian, pasti untuk tujuan yang baik dan nantinya ada kemudahan untuk kita di masa depan. Saat ini memang belum tahu..
Tapi nanti akhirnya bisa berkata.. "ooo pantes dulu diuji dengan keadaan itu.."
Selain itu, mindset ini penting karena Alloh kalau menguji hambaNya pasti pas ukurannya. Tak mungkin lebih dari kemampuan kita.
Maka jika suatu ujian itu sampai di hadapanmu, berarti ujian itu memang bisa kau selesaikan. Alloh Azza wa jala pasti sudah memperhitungkannya.
Dan itu jadi sebab mungkin kita akan mendapatkan kemuliaan.
Saya ingat betul dulu, guru saya sering ngasih tugas ke saya beberapa hal yang berat. Bahkan kadang sampai menyita waktu dan pikiran hingga larut.
Saya kadang mengeluh karena jadi tidak punya waktu beristirahat dengan cukup. Tapi sekarang baru saya rasakan manfaatnya. Semua yang dulu saya kerjakan jadi sangat berguna di kehidupan keseharian.
Alloh mungkin juga begitu.. semakin banyak ujian yang diberikan untuk kita tangani. Besar kemungkinan banyak skill yang akan jadi keuntungan bagi kita di masa depan.
Ingat, yang menguji adalah Alloh yang tidak ingin menghancurkan kita.
*************************
KEDUA, Tidak ada ujian yang tidak diiringi dengan datangnya hiburan.
Cara agar ikhlas berikutnya adalah.. ingat-ingat bahwa semua ini pasti ada penghiburnya. Tidak mungkin penyakit diturunkan tanpa obat. Demikian juga ujian, pasti diturunkan dengan jalan keluarnya.
Tugas kita lalui saja. Lewati seberat apapun. Pasti ada ujungnya. Ibarat masuk ke wahana rumah hantu, sengeri apapun. Pasti ada pintu keluarnya.
Naik Roller coaster pun pasti ada berhentinya.
Kita kadang terlalu terjebak di keadaan. Tidak fokus pada akhirnya.
Dan saya pernah membaca di Journal Neuro Science bahwa ternyata, orang yang depresi memiliki persepsi waktu yang sangat lambat. Inilah kenapa jika kita dalam tekanan.. waktu terasa sangat lama.
Maka untuk itu, Lakukan yang bisa dilakukan.. berbuat yang paling sederhana. Kerjakan yang bisa dikerjakan di depan mata. Jangan khawatir tentang bagaimana nanti.
Lakukan upaya terbaik saat ini.
Kalau bisa ikhtiar ya ikhtiar.
Bisa dagang ya dagang.
Siapa tahu,.. itu juga jadi jalan hadirnya solusi.
Kerjakan apa yang bisa dikerjakan saat ini. Ini juga terapi mengurangi kesedihan saat menghadapi ujian.
Terus bergerak. Jangan murung apalagi merasa lemah dan tak bergerak.
Hidup terbaik untuk hari ini, jangan khawatirkan urusan nanti. Itu kunci ikhlas yang kedua.
Yang sudah terjadi tidak mungkin bisa diulang. Yang hilang tak mungkin kembali hanya dengan ditangisi. Sekarang berpikir realistis saja. Hadapi dan jalani.
Paksa diri menghadapi keadaan adalah langkah menuju ikhlas. Banyak orang semakin berat untuk ikhlas karena berharap ujian yang dihadapinya ini tidak nyata.
Dan berharap ada bantuan dari orang lain yang bisa menyelesaikannya.
Hidupnya makin terjebak dalam angan-angan, bukan kenyataan. Ini yang membuat berat untuk ikhlas.
Ini juga sekaligus jadi nasihat untuk para perempuan.
Mulailah membangun arus penghasilanmu sendiri meski sebagai seorang Istri yang di rumah saja. Ada banyak cara sekarang untuk punya penghasilan tanpa keluar rumah.
Bukan untuk menyaingi suami. Tapi dalam rangka berjaga-jaga. Kalau semua baik-baik saja. Alhamdulillah.. jadi wasilah meringankan beban suami.
Kalau sampai harus diperlukan.. kita sudah siap.
************************
KETIGA, sesakit-sakitnya ujian, ingatlah manisnya akhirat.
Ingat bahwa dunia ini memang tempatnya ujian. Kalau diuji, ingat manisnya akhirat.
Camkan dalam hati.. Bahwa semua kesulitan ini, nanti saya tukar dengan voucher masuk surgaNya Alloh.
Andai sampai akhir hayat ujian ini tak kunjung selesai. Setidaknya malah jadi punya hujah di hadapan Alloh untuk minta keringanan hisab.
Itulah yang dahulu dibayangkan oleh para sahabat yang rela Syahid di awal-awal Islam. Ujiannya bukan tentang harta lho, bukan tentang kerjaan.
Tapi nyawa.
Saat disiksa dan hendak dibunuh,,
Bayangan mereka (para sahabat) adalah manisnya surga. Dan itulah yang menjadikan para mujahid di masa awal Islam begitu siap dan sanggup dengan perihnya ujian.
Maka tidak ada ikhlas kecuali dimulai dari mau sabar. Sabar dulu menghadapi semuanya.
Karena semua ujian pasti ada periode waktunya. Tergantung bagaimana sikap kita setelah itu..
Kalau kemudian jadi baik, jadi makin dekat ke Alloh, jadi banyak istighfarnya. Maka insyaallah jadi sebab cepatnya ujian berlalu.
Tapi kalau ujian datang makin bikin kita "Rusak".. ya biasanya jadi agak lama atau bahkan tak kunjung usai. Karena tujuan dari hadirnya ujian tak bisa dimaknai dengan benar.
Semoga semua yang tengah diuji diberikan kesabaran dan keikhlasan. Dan kekuatan untuk bisa melaluinya.
Aamiin