Imam Ghozali pernah berkata..
"Nasihat itu mudah, yang susah itu menerimanya."
Menerima nasihat itu berat..
Karena mudah tidaknya menerima nasihat tergantung bagaimana keadaan hatimu.
Jika hati sedang sakit.
Semua nasihat akan dianggap sebagai serangan yang menyakitkan. Bahkan status orang lain pun akan selalu dirasa sebagai sindiran untuk dirinya.
Kalau ketemu dengan video nasihat, ceramah atau sejenisnya.. yang terpikir pertama kali bukan mengevaluasi diri. Tapi hasrat ingin segera mention orang lain sembari berkata, "ini buatmu.."
Kotornya hati bisa membuat nasihat menjadi alat menyakiti orang lain.
Kalau tentang apa yang ada di dirinya, nasihat akan disebut hinaan. Bahkan dikatakan sebagai dalil yang dipelintir.
Namun jika sesuai tentang apa yang ia pikirkan atas orang lain, nasihat akan dilihat sebagai kebijaksanaan. Padahal aslinya ingin nyindir.
Di hati orang yang hatinya sudah sakit.
Ayat tentang tawakal akan dijadikan sebagai dalil untuk tidak berusaha maksimal. Berleha-leha dan pasrah menerima semua apa adanya.
Nasihat tentang sabar akan dijadikan alasan untuk membenarkan lambatnya bergerak, lambatnya respon ketika peluang sudah di depan mata.
Bahkan ayat tentang ampunan sekalipun akan dijadikan sebagai bukti tentang lumrahnya manusia berbuat dosa.
Hati mampu mencarikan kita jawaban sebagaimana kondisinya.
Lihatlah bagaimana caramu melihat setiap nasihat yang kau lihat. Begitulah kabar hatimu.
Banyak ,menolak dan tak nyaman?? Mungkin hatimu sedang sakit.
Jika terasa perih tapi mendorong diri bertobat dan bahkan menangis ingin menjadi baik, semoga itu tanda hatimu hidup dan sehat. Dan itulah Qolbun salim. Hati yang selamat.