Saya pernah merasakan kehilangan. Tepatnya ketika putri saya meninggal.. dan sebentar lagi, tepat 1000 hari kepergian ananda.
Di antara moment yang paling saya ingat dalam hidup saya adalah hari itu..
Hari dimana dokter menemui saya mengatakan..
"Bapak, adek sudah nggak ada. Bapak yang sabar."
Saya tidak meneteskan air mata saat itu.
Saya tetap bisa berjalan tenang menyertai jasad ananda didorong ke kamar jenazah untuk disucikan. Saya menunggu di luar.
Saat itu.. Saya lalu bersandar ke tembok rumah sakit, dan memaksa lisan saya berucap dengan jahr (nyaring) sampai telinga saya mendengar..
"Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.."
Di situlah baru air mata jatuh menetes.
Alhamdulillah bukan karena senang..
Tapi Alhamdulillah karena saya memaksa diri sadar bahwa inilah hebat dan kuasanya Alloh.
Kita tak punya kuasa.
Alhamdulillah.. untuk sebuah kesadaran, bahwa kita adalah hamba yang pasti sudah dimudahkan.
Dan saya memaksa otak saya berpikir..
"Saya rugi apa?? Anak ini milik Alloh. Saya rugi apa??
Justru sekarang Alloh mengangkat beban saya. Saya tidak lagi merawat ananda. Yang kalau masih hidup, belum tentu baik di bawah perawatan saya. Saya rugi apa??
Saya tidak lagi membiayai ananda. Yang kalau masih hidup, belum tentu saya mampu menanggung semua biaya berobatnya. Saya rugi apa??
Alloh sudah baik. Alloh sudah meringankan saya."
Maka.. alhamdulillah ya Alloh.
Engkau sebaik-baik pengatur urusan hamba.
Dan itulah tugas kita..
Tetap Bersyukur.. untuk sesuatu yang bahkan paling tidak kita sukai sekali pun.