Kita adalah hamba yang paling pandai dalam melihat sisi kurangnya dari sebuah nikmat.
Diberi pekerjaan, mengeluh dengan tekanannya, capeknya atau gajinya.
Diberi jalan punya usaha, mengeluh tentang kecilnya pendapatan dan sepinya pelanggan.
Diberi pasangan, yang dikeluhkan sifat buruknya.
Diberi anak, yang dikeluhkan nakalnya.
Diberi kesehatan, ngeluh bosen.
Nanti diberi kendaraan, yang dikeluhkan pun juga pasti ada; perawatannya, bensinnya belum pajeknya. Pokoknya ada aja..
Apa perlu kemudian harus Alloh ambil dulu..? baru kita akan menyadari betapa semua nikmat itu amat sangat berharga.
Pekerjaan yang kau keluhkan capeknya itu adalah pekerjaan yang diinginkan oleh mereka yang nganggur dan berharap punya jalan nafkah untuk keluarganya.
Pasangan yang kau keluhkan itu, adalah jodoh yang sedang diharapkan sebagian orang yang hari ini masih sendiri.
Anak yang kau keluhkan saat ini, mungkin adalah anak yang diharapkan sebagian orang bertahun-tahun lewat doanya. Yang bahkan membuat mereka mampu bangun di tengah malam meminta dan bermunajat kepada Alloh ﷻ dengan linangan air mata.
Akhirnya, bukan nikmatnya kurang lengkap.
Tapi kemampuan syukur dalam hatimu yang kurang besar.
اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّا سِ وَ لٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَشْكُرُوْنَ
"Sungguh, Alloh benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (QS. Ghafir: 61)
Tak akan pernah ada nikmat yang sempurna sebagaimana gambaranmu.
Yang ada adalah nikmat terbaik yang sudah Alloh sesuaikan dengan kebutuhanmu, lalu kau pandai mensyukurinya sehingga nikmat itu menjadi terasa sempurna.