Mau ngaku sepinter apapun..
kalau masih membalas berbuat jahat kepada orang lain hanya karena dijahati. Maka berarti masih bodoh.
Rela jadi jahat juga karena orang lain.
Rela rugi di akhirat demi orang lain.
Di situ letak bodohnya.
Karena artinya dia tidak paham..
Bahwa dikirimkan untuknya orang-orang jahat agar kelak di hadapan pengadilannlNya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dia punya voucher yang bisa meringankan hisabnya jika ia bersabar saat dijahati.
Dia bisa berkata di yaumul hisab..
"Ya Alloh, tolong ringankan hisab hamba lantaran dulu hamba sabar saat diperlakukan dengan zholim. Hamba tukarkan sabar di dunia dengan lapangnya akhirat.."
Dizholimi orang itu tidak selalu bermakna kemalangan. Tidak selalu bermakna perihnya cerita hidup.
Ada orang-orang yang hidupnya oleh Alloh didesain dikelilingi oleh sebagian orang jahat. Karena Alloh ingin kelak hisabnya ringan dan beruntung.
Sayangnya...
Sebagian kita lebih senang memuaskan diri untuk segera membalas perilaku orang lain karena tak sabar dengan balasan Alloh dan keistimewaan yang Alloh berikan baginya di akhirat.
Karenanya, ada sebuah nasihat dari para bijak..
"Mengorbankan hari ini demi masa depan adalah sebuah keharusan bagi orang yang ingin menang. Tapi mengorbankan masa depan demi hari ini.. itu adalah sebuah kebodohan".
Akhirat itu tidak sepadan dengan sekedar kepuasanmu membalas mereka..
Ikhlaskan, maafkan dan nikmati balasan terbaik dari Alloh.
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)