Jika kemarin kita membahas kenapa laki-laki jika sedang punya masalah mereka diam. Karena sejatinya mereka sedang berusaha mencari ketenangan lewat diamnya.
Namun perempuan justru sebaliknya..
Di saat ia memiliki masalah, perempuan biasanya justru ingin segera menumpahkan isi hatinya.
Kenapa begitu??
Karena keinginan dasar wanita adalah ingin selalu dikuatkan, selalu ingin didukung, divalidasi dan dikonfirmasi apa yang sedang dirasakannya.
Hal ini tak lepas dari default perasaan wanita yang sebenarnya selalu merasa sendirian. Dan sejatinya, setiap wanita tidak kuat untuk sendirian terlalu lama.
Fitrahnya wanita adalah selalu butuh ditemani.
يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
"Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan." (QS. Maryam: 23)
Susah sedikit.. akan merasa sendirian.
Galau sedikit.. "kok gak ada yang peduli sama aku ya."
Karenanya.. ketika wanita bercerita. Ia sedang memenuhi kebutuhan dirinya untuk ditemani. Meski dengan menjadikan ceritanya sebagai bahan transaksi.
Bahkan tak jarang rela membuka aibnya sendiri asal orang tertarik untuk mendekat, duduk bersamanya dan mendengarkan ceritanya.
"Aku punya cerita lho.. tolong temani aku".
Bahkan konsep sebagian besar wanita dalam bercerita bukan untuk mencari solusi tapi hanya untuk sekedar untuk ditemani. Sekaligus butuh sekedar dikuatkan bahwa langkah yang sudah diambilnya itu benar. Karena dia hanya butuh keberadaan pihak lain memberikan konfirmasi dan atau validasi.
"Pilihanmu nggak salah kok.."
"Kalau aku aku jadi kamu juga akan begitu.."
Wanita itu senang dengan keberadaan teman. Hingga tak aneh kita akan dapati maraknya kaum wanita yang punya "gang main, socialita, bestie atau sejenisnya".
Maka tugas seorang laki-laki yang paling penting di depan wanitanya bukanlah memberi ketenangan. Sebab mereka lebih jago kalau urusan nyari tenang.
Tugas laki-laki kepada wanita halalnya adalah..
● Tunjukkan antusiasme saat mendengar ceritanya. Jadilah orang yang selalu tertarik dengan cerita meski sebenarnya sudah diulang 10 kali.
● Tak perlu pinter-pinter amat untuk berusaha jadi problem solver. Cukup validasi apa yang dirasakannya. Ulangi gambaran perasaannya..
"Kamu sedih ya.."
"Nggak nyaman ya.."
"Aku tahu.. ini pasti berat.."
● Dan jadilah teman terdekatnya. Jangan sibuk dengan teman-temanmu sendiri, karena istrimu pun butuh teman. Dan teman yang diharapkannya adalah suaminya.