Pernah di satu masa.. saat semua masalah begitu terasa menyempitkan kepala. Saya bertanya kepada Alloh..
"Ya Alloh.. aku harus apa??"
Pertanyaan sederhana.. tapi bagi saya waktu itu, ini adalah pertanyaan pamungkas. Pertanyaan level akhir karena tak tahu lagi harus berbuat apa.
Dan mungkin banyak di antara kita yang pernah merasakannya.
Yang bahkan dengan doa saja kita sudah merasa tak percaya lagi.
Karena rasanya doa juga sudah tak kurang-kurang.
Jahat ke orang juga tidak.
Tapi kenapa masalah demi masalah datang dengan begitu beratnya.
Akhirnya diam..
Menenangkan hati dengan dzikir sampai tertidur. Waktu pun berlalu.
Dan seolah Alloh memberikan pengajaran..
Sudah.. lewati saja dengan sabar. Bahwa satu-satunya cara menyelesaikan semuanya adalah melewati waktu.
Berjalan saja..
Hari ini ketemu besok. Besok ketemu lusa.
Pekan depan, bulan depan. Tahun depan.
Semua akan berlalu juga.
Bahwa nyatanya kita hari ini, juga adalah hasil dari lewatnya masa lalu. Berhasil sampai di saat ini juga karena sabar melewati waktu.
Tugas kita bukan bertanya.. tapi bertakwa.
Tugas kita bukan protes.. tapi jalani proses.
Tugas kita bukan meragukan doa.. tapi mentobati dosa.
Karena kalau mau jujur..
Kita juga yang salah.
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.
"Wahai Dzat yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu kami memohon, perbaguslah pribadi kami semuanya, dan jangan Engkau pasrahkan urusan kami pada diri kami sendiri meski hanya sekejap mata, selamanya."