Terkadang.. adakalanya menjadi baik itu jauh lebih sulit daripada berbuat jahat.
Bukan beratnya jalan atau caranya.
Yang sering membuat berat adalah.. setelah kita berbuat baik, kita merasa pantas diperlakukan dengan baik oleh seluruh komponen alam.
Ingin semesta mendukung proses..
Berharap Alloh langsung memudahkan semua urusan.
Ingin orang-orang jadi baik ke kita, mengapresiasi, berterimakasih, membantu kita, ramah, sopan, tidak jelek-jelekin, gelar karpet merah dan seterusnya.
Di situlah yang menjadikan setiap orang baik selalu merasakan berat perjalanannya.
Mereka berharap buah kebaikannya cepat bisa dipanen. Alhasil, perjalanan berat yang menjadi fitrahnya manusia hidup di dunia dilihat sebagai hal yang tidak seharusnya.
"Harusnya nggak gini.."
"Saya kan sudah baik.."
Begitulah kira-kira keadaan batinnya.
Semakin terus dipikir demikian.. semakin berat pula tekanannya. Dan inilah yang menjadikan berbuat baik bagi sebagian orang terasa semakin berat.
Sebab itu..
Alloh dan RasulNya mengikat setiap kebaikan dengan dua syarat agar diterima sebagai amal yang tercatat oleh Alloh di akhirat.
Pertama, lakukan sesuai aturan (Qur'an dan Sunnah).
Kedua, lakukan dengan ikhlas.. agar hati tak berat menanti dan tak bertanya-tanya, "kapan yang dibalasnya??"
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَا بُوْا وَاَ صْلَحُوْا وَا عْتَصَمُوْا بِا للّٰهِ وَاَ خْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ وَسَوْفَ يُـؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
"kecuali orang-orang yang bertobat memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Alloh dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Alloh. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Alloh akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 146)