Kalau ada seorang suami atau istri yang melakukan kesalahan, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mengutamakan 3 hal.
1. Maafkan mereka (beri kesempatan).
2. Bersikap lemah lembut (nasihati dengan baik).
3. Dan tutup kesalahannya (jangan diungkit lagi jika mereka bertobat).
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّ مِنْ اَزْوَا جِكُمْ وَاَ وْلَا دِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَا حْذَرُوْهُمْ ۚ وَاِ نْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun: 14)
Kenapa demikian??
Karena ternyata, tahap cinta tertinggi itu memaafkan. Menyadari bahwa pasangan kita bukanlah makhluk sempurna.
Pasti khilaf, pasti punya salah.
Andai setiap kesalahan dalam pernikahan harus berakhir dengan perpisahan, maka dunia ini akan rusak.
Tak akan ada lagi kasih sayang.
Tak ada lagi hikmah dan pembelajaran.
Tak ada lagi teladan bagi generasi sesudahnya.
Dan sadar atau tidak.. Alloh juga mencintai kita dengan cara demikian.
Kita ini belum bisa menjadi muslim yang sempurna.
Dzikir masih lupa.
Ibadah masih lalai.
Bahkan, tak sekali dua kali kita kehilangan kesabaran.
Tapi Alloh memberikan kita kesempatan lagi dan lagi untuk memperbaiki diri di esok hari. Dan itu adalah di antara nikmat yang besar yang Alloh berikan..
Diberi maaf dan kesempatan.
Karena Alloh mencintaimu..
Mencintai kita semua. Itu nikmat besar yang mungkin lupa kita syukuri setiap hari.
Maka ucapkan.. "Alhamdulillah.. terima kasih ya Alloh sudah mencintaiku dan memberikan kesempatan lagi dan lagi."