Kenikmatan dan kebahagiaan itu ternyata bersifat dinamis. Terus berubah seiring waktu dan terus berubah sesuai kebutuhan.
Kebahagiaan di hari ini, ternyata bisa jadi kesedihan di waktu yang akan datang.
Misalnya..
Hari ini, ada seseorang yang punya handphone keluaran terbaru.. saat ini dia begitu bahagia. Begitu 6 bulan berjalan.. ia mulai bosan dengan itu dan menganggapnya biasa.
Dan jika selama 5 tahun ke depan gawainya tetap sama. Tidak berganti dan tidak berubah. Maka hampir bisa dipastikan saat itu mungkin ia akan mulai sedih dan mengeluh di saat melihat orang lain berganti gawai terbaru.
Contoh yang lain..
Ada orang tua yang di saat mendengar celoteh pertama dari anaknya.. "tha..tha..tha.."
Mungkin hal tersebut bisa memunculkan haru dan bahagia.
Namun jika sampai 3 tahun ke depan, dari lisan anaknya hanya tetap keluar kata "tha..tha..tha.." tidak bertambah dan tidak berubah, hal itu akan jadi sebabnya kesedihan bagi kedua orangtuanya.
Baju yang hari ini kita pakai..
Dulu mungkin pernah jadi yang terbaik yang kita pakai di waktu tertentu saja. Begitu disayang dan dijauhkan sebisa mungkin dari noda dan kotoran.
Namun hari ini?? Kita melihatnya biasa saja.
Begitu dunia..
Bahagianya tak pernah abadi. Tak pernah langgeng. Tak pernah sama ukurannya.
Selalu ingin terus bertumbuh.. terus dan terus.
Sampai tanpa kita sadari.. kita lebih sibuk mencari sebab bahagia yang baru daripada bersyukur dengan apa yang sudah ada.
Karenanya..
Belajar syukur itu perlu dilatih.
Karena ternyata bersyukur itu tidak mudah.
Bersyukur itu susah. Tanpa latihan, disuruh bersyukur akan terasa seperti membawa beban.