Saya sering ditanya begini..
"Bagaimana cara melatih hati agar sabar..??"
"Gimana supaya hati gampang bersyukur..??"
"Apa yang harus dilakukan agar hati bisa ridho menerima ketetapan Alloh..?"
Intinya, kira-kira seperti itu.
Daripada saya jawab satu-satu. Semoga tulisan ini bisa menjadi langkah awal untuk kawan-kawan yang sedang mencari jawabannya.
Perlu dipahami bahwa sabar, syukur, ridho, ikhlas, dan qona'ah. Atau apapun amalan yang masuk ke dalam kategori amalan hati..
Pada dasarnya memiliki rumus yang sama dengan amalan fisik.
Untuk bisa menguasainya, terbiasa dengannya dan ahli dengan itu, caranya adalah DILATIH.
Begitu pula dengan semua kebiasaan.
Mau itu aktivitas fisik, hati atau akal. Semua hanya perlu dilatih.
Orang terbiasa berpikir kritis, analitika, logika dan sejenisnya pun adalah hasil dari latihan.
Sama seperti orang yang begitu ahli dengan push up, shit up, atau pull up. Semua itu bisa dilakukan karena dilatih. Dibiasakan.
Ototnya merekam kebiasaan itu, badannya beradaptasi dan akhirnya menjadi mudah.
Tak ada bedanya dengan dua jenis aktivitas di atas (otak dan fisik), amalan hati pun juga perlu dilatih dan dibiasakan.
Yang jadi pertanyaan.. bagaimana caranya??
Alloh dan RasulNya sudah mengajarkan itu semua. Dimulai dari MELATIH LISAN.
Rasulullah Shollallahu'alaihi wassallam bersabda..
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Tidaklah istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidaklah istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya.” (HR. Imam Ahmad)
So.. kalau mau hati bisa sabar, mulai dari biasakan ngomong..
"Ya Alloh, hamba sabar.." meski sambil netes air mata. Nggak papa.
Meski hati sambil perih..
Terus paksa lisan, "insyaallah sabar ya Alloh.. sabar ini."
Pingin gampang bersyukur?? Biasakan ngomong.
"Alhamdulillah.. aku bersyukur kepadamu ya Alloh. Alhamdulillah alhamdulillah. Terimakasih ya Alloh."
Pingin bisa ridho, tinggal biasakan ngomong..
"Ya Alloh, hamba Ridho atas pilihanMu. Hamba ridho atas takdirMu."
Demikian pula dengan ikhlas..
"Dengan izinMu ya Alloh. Kami ikhlas. Kami lepas ya Alloh. Kami serahkan kepada-Mu.. kami sudah ikhlas."
Dan seterusnya..
Mau hati galau, perih, sakit, terasa berat. Apapun keadaan hati. Lisan harus menyangkalnya.
Maka tak salah kalau orang tua kita zaman dulu ketika marah, tapi sambil ngelus dada bilang..
"Sabar..sabar..sabar.."
Karena secara alami. Kita tahu caranya.
Dan itulah yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala juga ajarkan.
Lihat bagaimana Nabi Ismail Alaihissallam ketika dikabarkan oleh ayahnya hendak dikurbankan??
Perhatikan cara menjawab Nabi Ismail Alaihissallam..
"Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Alloh) kepadamu; insya-Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."" (QS. As-Saffat: 102)
Nabi Ismail mengafirmasi diri dengan lisannya. "Insyaallah aku termasuk orang yang sabar."
Karena kuncinya hati, ada di lisan yang baik.
Nah.. maka mulai sekarang. Katakan berulang ke diri.
"Aku sabar, aku ikhlas, aku ridho, aku bersyukur.." Dan seterusnya. Maka insyaallah..
Itu pula yang akan terjadi. Aamiin.