Beberapa hari ini, ada beberapa kawan-kawan yang datang menceritakan beratnya keadaan. Mengeluhkan kondisi yang sedang berat dan tidak baik-baik saja.
Saya pernah juga mengalami hal serupa. Gegara ulah sendiri, keburu nafsu. Bisnis bertumbuh, namun hutang juga bertambah.
Di fase itu.. setelah berjibaku dan berlagak tetap hebat di depan banyak orang dan keluarga. Akhirnya memutuskan untuk menerima keadaan. Tumbang juga..
Yang di luar nampaknya baik-baik saja.
Tapi yang di dalam.. beeeuuhhhh!! remuk redam.
Pikiran lelah karena terus berpikir cara mencari keselamatan. Beginilah, begitulah..
Akhirnya.. harus berani mengakui bahwa saya sedang tidak baik-baik saja..
Lalu datang kepada guru, meminta butiran mutiara hikmah dan nasihat.
Kata beliau..
Dan ini juga yang akan saya sampaikan ke kawan-kawan.
"Hartamu itu cukup..sangat cukup.
Rezekimu pun teramat cukup..semua bahkan sudah tepat takarannya.
Keserakahan dan tidak sabaran yang membuat hidup yang sudah tenang dengan kecukupan, menjadi gelisah yang tak berkesudahan."
Jlebbb..!!! Astaghfirullahal'adziim..
Iya juga.. apa yang kurang sebenarnya adalah kerana takaran kita sendiri yang membuatnya jadi kurang.
Sejak saat itu.. Saya tidak berani lagi berdoa untuk minta dibuat kaya, sebelum saya mendahuluinya dengan berdoa meminta rasa cukup di dalam hati.
Rasa cukup itulah yang ternyata paling bisa menyelamatkan. Tahu batasan cukup..
Tahu batasan kapan berhenti dan menikmati.
Tidak terus bergerak mengumpulkan sampai lelah. Andai harus lelah..
Lelah untuk membagikan, bukan lelah mengumpulkan.
Betapa baiknya Alloh yang sudah menjadikan rasa cukup di dalam hati orang-orang yang bertakwa.