Saya tidak berani berkomentar banyak ketika mendengar kabar seorang istri yang sampai nekat berbuat di luar batas kepada suaminya.
Atau mungkin dalam kasus lain melakukan sesuatu yang kejam kepada anak-anaknya.
Terlepas dari itu salah..
Terlepas itu dosa..
Hal tersebut mungkin karena memang apa yang dialaminya sudah teringat sangat berat.
Sebab urusan beginian tidak selalu masalah hati atau masalah iman.
Kalau sekedar urusan hati.. kita semua pernah mengalami hati yang begitu merasakan sakit. Hati yang teramat lemah.
Kalau urusan iman.. siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami futur iman? Semua pasti mengalami naik turunnya iman.
Maka, jika sampai ada seseorang yang melampaui batas dalam menyikapi masalahnya, menurut pengalaman kami menangani banyak persoalan jama'ah, sering kali hal yang paling berpengaruh adalah hal berikut..
Merasa Sendirian.
Merasa berjuang sendiri. Apa-apa ditanggung sendiri.
Capek sendirian, mikir semuanya sendirian.
Menghadapi semuanya sendirian. Ini mengerikan..
Orang terdekat yang seharusnya jadi penguat seringkali justru tidak menunjukkan bahasa peduli. Bahkan ada beberapa yang secara terang-terangan menunjukkan sikap nggak mau tahu.
● Ada yang ketika Istri capek ngurus anak, suaminya malah pergi main.
● Ada yang ketika rumah berantakan, suaminya tetap tiduran dan asyik dengan game-nya. Sang istri pun yang akhirnya kembali harus menahan capeknya badan membersihkan rumah.
● Ada yang bahkan ketika istri dalam keadaan hamil dan merasakan sakit, ada sebagian suami yang malah bersama dengan wanita lain. Naudzubillah min dzalik..
Dan hal seperti ini tidak selalu hanya dilakukan oleh sisi laki-laki saja.
● Ada pula beberapa wanita yang kemudian tak mau tahu tentang beratnya pengeluaran suami. Ia tetap hutang sana sini memenuhi gaya hidupnya.
● Ada beberapa istri yang tak mau tahu bagaimana suaminya harus menjaga hati banyak pihak. Di satu sisi adalah istrinya, di satu sisi adalah ibunya, atau di sisi lain adalah keluarganya.
Ketika fisik teramat lelah.. dan ketika batin juga sudah begitu lemah.
Saat semua masalah dan tekanan terjadi berulang kali. Terkadang, faktor merasa sendirian inilah yang paling sering mendorong perasaan untuk mengambil alih keputusan.
Di sinilah titik paling berbahaya.
Merasa percuma berusaha kalau cuma diri sendiri yang berusaha.
Merasa percuma memperbaiki keadaan kalau pada akhirnya tidak ada yang bisa mengerti.
Alhasil.. keputusan berbahaya pun kadang diambilnya.
Karenanya.. jika ingin sehat lahir batin, carilah lingkungan yang bisa mendukungmu menciptakan kondisi batin yang terbaik. Kondisi hati yang selalu terpaut dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Carilah support system yang sehat.
Yang selalu mengingatkan akhirat. Atau setidaknya.. Ada teman untuk bisa diajak tertawa dan bahagia sejenak dalam kebaikan.
Syukur-syukur jika orang-orang itu adalah keluarga kita sendiri. Pasangan kita sendiri.
Jika pun saat ini bukan atau belum mereka. Segera cari..!!
Jangan sampai ketika setan menyerang pertahanan hati, kita tak punya bala tentara yang membantu dan menguatkan.
Merasa sendirian itu bahaya.
Merasa sendiri itu mematikan.
Karenanya Nabi Musa alaihissallam berdoa kepada Alloh saat meminta agar dibolehkan ditemani Harun alaihissallam dengan doa yang menggambarkan tujuan.
اشْدُدْ بِهٖۤ اَزْرِيْ {} وَاَ شْرِكْهُ فِيْۤ اَمْرِيْ {} كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا {} وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا
"teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu," (QS. Ta-Ha: 31- 34)
Karena punya teman yang sholeh itu meneguhkan hati. Dan membuat kita lebih mudah mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Hati cenderung selamat dan iman cenderung kuat. Insyaallah.