Jangan dikira setiap nikmat itu tidak membawa konsekuensi..
Setiap nikmat pasti punya konsekuensinya masing-masing.
Kita ini sering keliru menyikapi banyak hal.
Salah satunya tatkala melihat orang lain punya nikmat yang besar, kita lalu berpikir..
"Enak ya hidupnya.."
Alhasil jadi kufur nikmat atas apa yang Alloh berikan ke diri sendiri.
Padahal nikmat yang besar pun memiliki konsekuensi yang besar pula.
Contoh nih..
Orang yang hartanya banyak, otomatis dibebani zakat yang juga semakin besar. Belum lagi kewajiban lain yang dibebankan syariah kepadanya.
Harus lebih banyak menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Kena beban harus berangkat haji. Kena beban harus BerQurban. Kena beban memberi lebih banyak.
Orang yang punya jabatan.. dibebankan dengan konsekuensi hisab yang lebih berat saat kelak berhadapan dengan Alloh.
Dan bahkan ancamannya pun amat sangat berat ketika dia tidak amanah dan malah mempersulit urusan orang-orang yang dipimpinnya. Ancamannya sampai level neraka.
Contoh lain lagi..
orang yang punya istri lebih dari satu misalnya. Katakanlah beristri 4.. jangan hanya dilihat enaknya saja. Lihat pula bahwa yang dinafkahi juga semakin banyak, anak yang dididik juga semakin banyak.
Dan juga jangan lupa.. mertuanya ada 8 guys. Pusing nggak tuh..!! Hehehehe.
Pelajarannya adalah..
Bahwa jangan selalu berangan-angan punya nikmat yang besar dan banyak jika tidak siap dengan konsekuensinya.
Hidup ini tidak hanya kaitannya dengan perkara banyak saja. Tapi juga perkara keberkahan.
Yang paling penting adalah berkahnya..
Dan ciri nikmat yang berkah itu ada 2
1. Sedikit rasanya cukup
2. Kalau banyak, tidak jadi bahaya.
Maka salah satu doa yang diajarkan Rasulullah Shollallahu'alaihi wassallam adalah doa berikut..
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَ مِن دُعَاءِ رسُولِ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوالِ نِعْمَتِكَ، وتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وفُجَاءةِ نِقْمَتِكَ ، وَجَميْعِ سَخَطِكَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ‘ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK’
Artinya: "Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim)