Menikah itu bukan untuk menemukan orang yang tepat.. karena pernikahan yang sesuai aturan Alloh ﷻ tidak dilalui dengan fase coba-coba.
Pernikahan yang benar di pandangan Alloh ﷻ adalah pernikahan yang dilakukan karena dasar khawatir dan takut terjerumus ke dalam apa yang Alloh larang dan Alloh benci.
Karena itu..
Modal paling awal sebuah pernikahan adalah sama-sama takut jika keliru melangkah.
Takut jika salah berbuat.
Khawatir untuk tergesa-gesa.
Banyak belajar dan waspada mana yang halal dan yang harom. Demi menjaga agar Alloh tidak marah.
Akibatnya pun (seharusnya) masing-masing akan amat sangat takut jika kemudian menyakiti hati pasangannya lewat tingkah dan perbuatannya.
Dan ini hal yang paling sering diabaikan dalam pernikahan..
Andaikan engkau sulit mencintai pasanganmu.
Engkau sulit mengungkapkan cinta, sayang dan teramat sulit dalam memberikan perhatian.
Maka hal yang paling basic untuk dipelajari dan dipaksa bisa adalah.. jangan menyakiti hatinya.
Karena dicintai.. itu adalah bonus dalam sebuah pernikahan. Lha wong kemarin belum kenal, belum tahu, belum akrab.
Tapi tidak disakiti?? Itu wajib dalam syariat..!!!
Pada akhirnya..
Pernikahan yang bahagia bukan diukur dari luasnya rumah dan perabotan yang mewah. Tapi dari seberapa besar upaya masing-masing untuk menjadi hati satu sama lain.
Mungkin belum tentu muncul cinta.
Namun setidaknya tidak muncul benih kebencian yang berawal dari rasa sakit yang berulang.
Belajarlah terus menjadi orang yang tepat bagi satu sama lain.
Konon dikatakan..
Jika kau dicintai orang yang tepat, maka kekuranganmu akan jadi bahan untuk kalian berdua saling tertawa.
Ketika kau dicintai oleh orang yang tepat..
Maka jiwamu akan kembali menjadi bocil yang kembali senang bermain dan gembira. Bahkan tak jarang dengan sengaja memilih bertingkah konyol daripada jaim menjaga wibawa.
Dan untuk menemukan orang yang tepat dimulai dari diri sendiri berusaha menjadi orang yang tepat bagi pasangan kita masing-masing.