Saya berani jamin..
Bahwa tidak ada satupun di antara kita yang bisa lepas dari fenomena penyesalan atas masa lalu.
Bahkan mungkin sampai sekarang..
Masih ada yang berpikir, "Kenapa dulu saya ambil itu??"
"Kenapa dulu saya lakukan itu??"
"Kenapa dulu memutuskan begitu..??"
Dan terkadang..
Memang dibutuhkan begitu banyak waktu hanya untuk bisa menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan kenapa dulu begini dan begitu.
Sebab Alloh ﷻ ingin membuat kita belajar.. bahwa salah satu komponen dari sabar adalah waktu yang tak sebentar.
Lalu disempurnakan dengan kemampuan menahan diri dan melihat segala sesuatu dari sisi baiknya.
Dan Alloh ingin agar kita juga belajar tentang bagaimana mempertahankan baik sangka kepada Alloh dan takdir-takdirNya lewat panjangnya waktu dan penantian.
Harus siap pula melewati beragam campur aduknya rasa untuk akhirnya bisa sadar betapa luar biasa nikmat pemberian Alloh pada akhirnya. Itu lantaran Alloh ingin mengajarkan kepada kita artinya ridho dan kesyukuran.
Bahkan terlalu sering kita dihadapkan pada beragam manusia yang antara senyum di muka, niat di hati dan lisannya tak pernah sama. Agar kita belajar rasanya ikhlas dan prosesnya.
Dan dibuat berulang kali kita kecewa dengan manusia agar sadar bahwa mereka bukan tempat untuk bersandar.
Hidup ini dibuat begitu amat menantang setiap waktu agar kita selalu belajar dan berkembang.
Karena musuh di akhir zaman amatlah sukar. Seperti permainan, sebelum menuju ke Bos terakhir.. dibutuhkan upaya menaikkan level agar kekuatan kita bisa sepadan dan layak untuk menghadapinya.
Terus menerus dibuat lelah, sedih dan kehilangan karena perihal dunia.. agar kita paham dan tergambar, jangan sampai nyaman dan ingin tinggal selamanya.
Dan akhirnya kembali berada di puncak pemahaman.
Hanya Alloh sebaik-baik tujuan.
Hanya akhirat sebaik-baik tempat yang layak untuk terus dipikirkan.
Mikirin bagaimana keadaan saat mati nanti.
Mikirin bagaimana keadaan saat di dalam kubur nanti.
Karena hanya dengan begitu..
Kita tidak menjadi manusia liar yang menghalalkan segala cara. Dan tak pula menjadi manusia yang hilang kemanusiaannya karena lupa darimana asalnya.