Katanya takdir Alloh itu adil..
Tapi kenapa saya merasakan sakit seperti ini. Saya susah..
Tenang dulu..
Begini kawan. Bayangkan ada seorang yang punya penyakit diabetes. Dia datang ke rumah sakit dengan luka yang sudah parah di kakinya.
Setelah berkonsultasi dengan dokter. Sang Dokter memberikan pilihan amputasi.
Seketika karyawan merasakan sedih.
Ia menolak dan berusaha untuk minta opsi yang lain. Pikirannya kalut, takut, sedih dan kecewa.
Dan kira-kira, begitulah gambaran sikap kita tatkala menghadapi takdir Alloh.
Kita sering kali memakai kacamata pasien ketika menerima sebuah keputusan.
Kenapa pasien di atas sedih, takut dan kecewa..??
Karena isi pikirannya adalah.. "Saya kehilangan satu kaki".
Sementara ketika dokter memberikan opsi amputasi, isi pikiran dokter adalah..
"Ini untuk menyelamatkan pasien. Agar infeksi di kaki tidak menjalar. Dan akhirnya berdampak buruk bagi kesehatannya secara menyeluruh."
Begitulah pikiran seorang dokter yang sudah belajar sekian tahun untuk akhirnya membuat mengantarkannya pada kesimpulan di atas.
Lihat pelajaran di atas..
Kenapa takdir selalu nampak buruk di mata kita?? Sebab mungkin saja. Kita selalu memandang takdir dari kacamata seorang pasien.
Semua serba dirasakan sulitnya dan sakitnya.
Kenapa harus disuntik..?
Kenapa diinfus..?
Kenapa minum obat..?
Kenapa diamputasi?
Kalau dokter saja memutuskan segala sesuatu dengan ilmunya, apalagi Alloh yang maha mengetahui??
Pastilah segala sesuatu Alloh tetapkan demi kebaikan hambaNya. Tapi sekali lagi..
Sayangnya kita selalu berpikir terlalu pendek. Tanpa paham kebaikan dibalik segala takdir dan keputusan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Kalaupun takdir terasa tidak menyenangkan bagi kita.. mungkin problemnya ada pada 2 hal..
1. Ilmu kita yang belum sampai.
2. Tidak sabar dalam mencari hikmahnya.