Setiap orang pasti akan diuji dengan tahap yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.
Dan tidak akan sampai pada derajat ketakwaan yang sempurna sebelum kita diuji melalui keluarga sendiri atau orang terdekat kita..
Karena Alloh ingin melihat bagaimana cara kita merespon ujian yang datang melalui mereka.
Nabi Nuh dan Nabi Luth diuji melalui istri dan anaknya.
Nabi Ibrahim diuji melalui ayahnya.
Nabi Yusuf diuji lewat saudaranya.
Nabi Muhammad sholallahu'alaihi wa salam pun diuji melalui pamannya.
Sebab terkadang..
Ujian dari orang terdekat berlangsung lebih lama dan dramatis.
Mau negur.. kalah umur..
Mau diam.. tapi itu salah..
Mau menghindar tidak mungkin..
Maka dibutuhkan kemampuan mengelola hati, mengolah kata dan mengendalikan sikap agar tak salah langkah.
Bagaimana pun juga..
Mereka juga tahu semua kelemahan kita. Tahu semua kekurangan kita.
Inilah medan dakwah paling berat sebagai ujian iman dan takwa seorang muslim..
Bukan dari luar benteng, tapi justru dari dalam rumahnya sendiri.
Karenanya Rasulullah sholallahu'alaihi wa salam mengingatkan..
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku“
Karena kita akan dihadapkan..
Pada keadaan dimana keluarga kita akan menguji hati, dan kita tetap harus berlemah lembut kepada mereka.
Sabar kawan.. jika itu sudah terjadi, artinya Alloh sudah memandangmu di derajat takwa yang tinggi. Pertahankan sabarmu.
Insyaallah nanti tinggi derajat surgamu.