Ada sebagian orang yang oleh Alloh diberikan keterbatasan karena Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak ingin dia hidup dalam kedzaliman dan kemaksiatan.
Sebab ada sebagian jiwa yang tak sanggup bersabar dengan kedudukan yang tinggi dan keberlimpahan dalam harta.
Kala miskin ia tawadhu.
Saat dirinya bukan siapa-siapa dia begitu santun dan sopan.
Tak terpikir mendekat kepada maksiat, dan aktivitasnya penuh dengan kebaikan.
Tempat yang paling sering dikunjunginya adalah masjid.
Yang paling jauh baginya adalah majelis ilmu.
Yang paling nyaman baginya adalah rumahnya bersama istri dan anaknya.
Namun.. begitu Alloh ﷻ uji dengan sedikit harta dan kedudukan..??
Jiwanya tak mampu bersabar dengan itu semua.
Sikapnya menjadi kasar, sombong, dan kikir.
Masjid menjadi asing, majelis ilmu terasa jauh dan rumah tak lagi nyaman.
Ia mulai tertarik dengan maksiat, mencobanya dan terbiasa karena mulai bisa membelinya.
وَإِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَ يَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ الفَقْر وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَكَفَرَ
“Dan sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanannya barulah baik jika Alloh memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Alloh membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”. (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim)
Oleh sebab itu kawan..
Percayakan pada Alloh ﷻ apapun keadaanmu.
Alloh lebih tahu dimana potensi rusakmu.
Terlebih kadang.. ada orang yang merasa sudah rajin sholat kok masih susah. Justru karena itu..
Alloh tak mau sholatmu hilang berganti malas karena memegang harta.
Sesayang itu Alloh sama kita.
Hidup itu bukan hanya tentang meminta.
Boleh saja engkau meminta dirimu kaya dan lapang harta. Tapi pastikan..
Saat semua itu Alloh berikan, jangan berubah jahat.
Tetaplah santun.. dan manfaatkan hartamu dalam kebaikan.
Jadikan langkahmu tetap dengan dengan masjid dan majelis.
Buktikan bahwa harta tidak mengubahmu.
Kedudukan tetap membuatmu ingat bahwa dirimu seorang hamba yang tak pantas sombong.