Ada pepatah mengatakan..
Ikan yang tidak membuka mulutnya, tidak akan pernah bisa dipancing.
Kawan..
Kita ini sejatinya, adalah manusia yang sedang ditunggu kejatuhannya oleh orang lain. Maka waspadalah..
Kita ini sejatinya adalah orang yang selalu diintai setiap gerak langkah dan ucapannya oleh mereka yang membenci. Maka berhati-hatilah..
Suka tidak suka. Diakui atau tidak.
Setiap kita selalu Alloh takdirkan memiliki pembenci..
Pembenci itu seperti bayangan. Tak akan pernah pergi meninggalkan kita.
Semakin terang cahayanya.. semakin besar pula bayangannya.
Semakin sukses dan bersinar seseorang.. Semakin besar pula kemungkinan datangnya orang yang tak suka.
Maka.. tetaplah hati-hati dan waspada.
Jaga adab. Jaga lisan.
Sudah terlalu banyak kita saksikan bahwa jatuhnya seseorang karena tidak kuatnya menahan lisan.
Maka sampai Rasulullah sholallahu'alaihi wa salam menasihatkan kepada sahabat Muadz bin Jabal Radhiallahu'anhu, dengan sangat serius mengenai lisan dengan perkataan, "Jagalah olehmu ini (lisan)"
[Kuffa alaika hadzaa].
Sembari mengeluarkan lidah mulia beliau ﷺ dan memegangnya.
Karena seringkali.. kita kepleset lisan bukan karena niat, tapi karena terbawa suasana dan keadaan.
Tertawa terbawa suasana.. akhirnya lisan memunculkan lelucon dusta dan merendahkan harga diri demi tetap dianggap terlibat seru.
Ditanya satu dua hal.. kepancing ingin menjawab, alhasil berujung ghibah dan fitnah yang tidak perlu.
Bahkan banyak sekali orang alim terjatuh.. hanya karena ingin dianggap bisa menjawab semua pertanyaan.
Maka dari itu.. jangan jadi orang yang mudah merespon setiap kata dengan cepat. Pikirkan dengan cermat.
Berpikir sebelum bicara.
Jangan bicara baru berpikir.