Setiap ikatan itu ada pengujinya..
Suami akan diuji cintanya ketika istrinya sedang sakit dan tak mampu lagi melayaninya.
Istri akan diuji kesetiaannya ketika suaminya dalam keadaan miskin dan belum mampu memenuhi keinginannya.
Anak akan diuji baktinya ketika orang tuanya menua, semakin lemah dan mulai pikun.
Murid akan diuji rasa hormatnya kepada guru ketika ia melihat aib gurunya.
Saudara akan diuji ikatannya ketika warisan dibagikan.
Teman akan diuji ketika temannya sedang dalam kesulitan.
Dan keimanan seorang hamba kepada Rabb-nya akan diuji ketika ia dipertemukan dengan ujian dan menghadapinya.
Apakah ia masih memandang Rabb-nya sebagai yang maha Pengasih lagi penyayang..??
Yang Maha Pemberi Rezeki di saat ia tengah disempitkan rezekinya.
Karenanya..
Tidak mungkin seseorang bisa membanggakan imannya sebelum ia mampu menikmati ujian yang sedang dihadapinya sembari tetap menjaga ketergantungannya kepada Alloh, kepercayaannya kepada Alloh, dan tetap baik sangka sampai level mentok kepada Alloh ﷻ.
اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman" dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-'Ankabut: 2)
Maka...prinsip selamat dan sukses dunia akhirat itu cuma 3 tahapan.
1. Punya iman kepada Alloh.
2. Tetap beriman saat di uji.
3. Dan paksa masih beriman sampai mati.