Entah apa yang sebenarnya kita rayakan??
Bukankah berganti tahun, sama saja artinya bahwa waktu kita yang tersisa semakin sedikit?
Tidakkah kita sadar.. bahwa semakin berkurang hari, semakin dekat pula pertemuan kita dengan kain kafan sendiri..?
Apa yang sedang kita rayakan?
Jika hati sendiri tahu, bahwa bekal amal belum bertambah secara signifikan.
Dosa pun sepertinya lebih cenderung bertambah daripada yang termaafkan.
Apakah kita sedang lupa?
Atau menyengaja menjadi bodoh hanya karena yang lain juga sama?
Tak salah jika kemudian Rasulullah sholallahu'alaihi wa salam mengingatkan..
Bahwa orang yang paling cerdas, adalah yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkannya.
Karena ternyata benar..
Orang-orang yang lupa akan kematian, dan menganggap dirinya hidup lama dan selamanya.. ternyata rela menghabiskan harta dan waktunya sia-sia hanya demi kesenangan yang tak seberapa lama.
Hanya demi moment..
Orang rela mengeluarkan harta.
Rela capek. Rela meluangkan waktu.
Dan sanggup berjuang keras, berjibaku, bersusah payah, bahkan berkompetisi fisik dengan orang lain dengan semua risikonya demi moment yang tak seberapa lama.
Namun begitu untuk urusan di dalam kubur yang mungkin amat sangat lama, ia bersantai dan nanti-nanti.
Mengeluarkan harta pun, jika urusan bekal alam kubur, dicari yang paling sedikit, paling hemat, lalu berdalih.. "yang penting kan ikhlasnya". Dan berharap dibalas dengan balasan yang ratusan kali lipat.
Ingat..!!
Kubur itu gelap. Maka terangi dengan bacaan Qur'an saat hidup.
Kubur itu sempit. Maka lapangkan dengan sedekah, bukan dengan kemubaziran.
Keadaan di sana (alam kubur) itu berat. Maka ringankan dengan doa dari banyak teman dalam kebaikan.
Dan menunggu di dalam sana itu lama. Maka jadikanlah terasa nikmat, dengan banyaknya amal sholeh yang menemani dengan cerita seputar kabar gembira.