Makin dewasa.. kita akan semakin paham bahwa tidak semua hal itu perlu ditanggapi.
Tidak semua hal harus direspon seketika.
Bukan karena penakut.. bukan karena pengecut. Tapi karena paham, bahwa jangan sampai energi terbuang sia-sia untuk sesuatu yang tak ada habisnya.
Akan ada masanya antum akan sering berkata..
"Wis ben.. biarin saja.."
"Nggak papa.. doain saja.."
"Nggak usah dipikirin.. nanti semua ada balasannya."
Kalau omongan itu mulai muncul dengan sadar diiringi hati yang tenang..
Selamat, antum sudah dewasa.
Tidak mudah terprovokasi..
Tidak semua omongan orang lain tentang kita perlu ditanggapi.
Tidak semua ajakan debat dilayani..
Tidak semua kebencian diklarifikasi.
Jika antum merasakan hal di atas, itu tanda hadirnya kedewasaan.
Karena kenikmatannya orang dewasa bukanlah kegagahan. Tapi ketenangan.
Yang dicari itu tenang..
Menghindari konflik..
Menepi dari perdebatan.
Yang penting hidup tentram, hati terkendali. Itu sudah kenikmatan.
Konon..Tua itu pasti.
Tapi dewasa.. itu adalah pilihan.
Mereka yang masih senang menuruti nafsunya. Disenggol langsung panas.
Dicolek langsung ngelabrak.
Ditantang langsung gaskeun.
Apa nggak capek..??
Mau sampai kapan hatimu dikendalikan orang sekitarmu?
Jadilah dewasa.. dimulai dari tidak terlalu cepat bereaksi pada sesuatu yang tidak mengganggu kenyamananmu.
Perpanjang jeda berpikir.. Agar lebih mudah melihat mana sisi baiknya. Mana positifnya.
Lalu bersyukur setelah menemukannya..
Itu baru namanya Dewasa.
Baru saya paham.. kenapa Rasulullah Sholallahu'alaihi wassalam memerintahkan kita menghindari debat, menahan amarah, memilih banyak diam jika perkataan tidak manfaat dan membalas keburukan orang lain dengan mendoakan. Sebab itu semua adalah cirinya kedewasaan.
Beliau Sholallahu'alaihi wassalam ingin kita dewasa. Agar hidup bisa ketemu tenang dan lebih mudah bersyukur.