Sebelum saya menulis.. doa terbaik mari kita panjatkan kepada Alloh untuk saudara-saudara kita di Sumatera, Sulawesi, Jawa dan juga beberapa wilayah di Indonesia yang sedang terdampak bencana alam.
Semoga Alloh memberikan kita semua, terkhusus yang terdampak, kesabaran. Dan Alloh jadikan kesulitan dan kesusahannya sebagai kafarot atas dosa dan sebab ditinggikannya derajat.
Semoga setelah ini, kita semua semakin kuat, tangguh, dan berkehidupan yang lebih baik lagi bersama Alam. Aamiin.
Kawan-kawan..
Bencana itu memang takdir Alloh.
Tapi tidak serta merta hanya dilalui dengan sekedar tawakal saja. Lalu menerima dan melaluinya dengan pasif.
Sebab jika demikian.. bisa jadi tujuan dari Alloh hadirkan bencana tidaklah sampai kepada kita.
Emang ada tujuan bencana hadir..?? Ada.
ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Alloh menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
Karena ada sebagian bencana.. yang memang muncul sebab ulah tangan manusia. Dan Alloh sebutkan tujuan.
Ada 2 kawan..
1. Agar merasakan konsekuensi dari perbuatan sendiri.
2. Agar kembali ke jalan yang benar.
Terlepas dari saat ini kita semua merasakan kesedihan mendalam.
Namun, ada juga hal yang harus diperhatikan.
Apa itu?? Tobat masal.
Kita udah banyak salah mengelola negeri ini. Mengelola alam ini.
Dan hari ini, apa yang terjadi saat ini adalah konsekuensi yang harus kita tanggung bersama.
Kita harus ngaku salah.
Khususnya yang diberi mandat oleh rakyat.
Seenaknya sendiri menggunduli hutan. Seenaknya sendiri menjual tanah ke investor yang hanya tahu merusak lingkungan.
Keharmonisan, keselamatan dan kepentingan rakyat diabaikan. Yang penting cuan..!!
Harusnya.. pemerintah minta maaf ke rakyat. Minta ampun ke Alloh. Itu output yang harusnya terjadi saat bencana.
Bukan malah pembelaan diri terus.
Ngeles terus. Nyusun retorika yang intinya.. "nggak mau disalahkan".
Suka tidak suka.. perlu diakui.
Kita sudah kehilangan banyak hutan.
Dulu sewaktu kecil. Di sekolah saya selalu diajarkan di pelajaran IPS. Bahwa Indonesia adalah paru-paru dunia.
Dan kita bangga dengan itu.
Tapi sekarang??
Mana ada sebutan itu lagi..??
Hutan kita sudah hilang 66% dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Sedih nggak sih..??
Terus masih nggak ngaku salah urus??
Masih ngeles itu kayu tumbang sendiri.
Masih ngeles itu nggak ada pembalakan liar..??
Dalam keadaan seperti.. boleh kok kita mengkritik pemerintah. Karena memang mereka diberikan amanah.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Saya membayangkan..
Harusnya. Di kejadian-kejadian seperti ini.
Pemimpin hadir dan berkata kepada Rakyat.
"Saya salah.. kami salah.
Saya hendak mengajak saudara semua rakyat Indonesia, kita mohon ampun kepada Alloh. Kita sholat tobat bareng-bareng. Agar negeri ini selamat. Dan jadi negeri yang Baldatun Thoyibatun, wa Robbun Ghofur."
Dan untuk saudara-saudaraku rakyat Indonesia yang sedang ditimpa musibah.. tahan diri sebentar. Mari bersabar..
Jangan mengambil yang bukan hak.
Saya hanya khawatir hal ini akan semakin memberatkan antum sekalian di dunia dan akhirat. Wallahu'alam.