Kenapa bagi sebagian orang, pernikahan teramat sangat menyeramkan..
1. Karena mereka menjadikan tuntutan sosial sebagai tujuan pernikahannya.
Terlalu banyak tuntutan sosial yang tanpa disadari menjadi tujuan sebuah keluarga.
"Nikah harus resepsi."
"Harus punya rumah sendiri."
"Harus punya anak cowok dan cewek.."
Dan banyak lagi terkadang tuntutan sosial dijadikan sebagai tujuan.
Padahal tidak semua hal itu adalah wajib.
Tidak selalu yang dilakukan orang lain harus juga kita lakukan.
Jalani pernikahan dengan ritmemu sendiri dan sesuai kemampuanmu. Insyaallah tenang rumah tanggamu.
2. Tidak ada penengah adil dan berilmu yang disepakati.
Gini kawan.. kenapa ketika kita memilih barang elektronik, rata-rata kita memilih yang bermerk, jelas dan terkenal.
Satu di antara alasannya adalah.. kalau rusak, jelas dimana harus service-nya.
Konyolnya.. kita (kebanyakan) tidak pernah mampu bisa menjawab pertanyaan..
"Kalau pasanganmu 'rusak', kemana kita harus membawanya untuk diperbaiki??"
Di sinilah pentingnya penengah adil dan berilmu yang harus disepakati.
Maka jika belum terjadi (belum menikah), pilih pasangan yang punya guru, sehingga ketika nanti pasanganmu sedang eror, kita bisa membawanya kembali atau lapor kepada gurunya.
Namun jika sudah terlanjur menikah..
Pilih satu orang alim dan adil yang disepakati bersama untuk kelak didatangi dan diterima fatwanya saat terjadi perselisihan.
Sebab menyelesaikan perselisihan hanya berdua saja, terlebih jika keduanya tidak dalam keadaan berilmu dan setara. Hanya akan berujung pada buruk sangka..
"Itu kan maumu", "Itu kan menurutmu." Dan seterusnya..
3. Yang dibicarakan hanya tentang impian duniawi.
Ada satu rumus abadi yang diajarkan pada ahli hikmah.
"Siapa yang kegelisahannya karena urusan dunia, maka akan menjadi gelap hatinya. Dan siapa yang kegelisahannya adalah tentang urusan akhirat, maka menjadi terang hatinya."
Rumah tangga yang pembicaraan didominasi oleh impian-impian duniawi, maka gelap pula hati penghuninya.
Kalau sudau gelap hatinya?? Rusak komunikasinya. Hilang cinta kasihnya. Dan yang paling fatal.. jauh dari mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.