Meyakini diri benar itu boleh. Tapi merasa diri yang paling benar dan menyalahkan orang lain.. itu awal dari kejatuhan.
Karena dari sinilah awal kesombongan muncul. Dan badan manusia yang lemah tidak didesain untuk menahan rasa sombong.
Maka siapa yang sombong, pasti jatuh..
Sudah terlalu banyak kita melihat contoh dan pengingat, mereka yang sombong akhirnya dihinakan.
Sombong dengan kesehatan, tak lama jadi sakit.
️Sombong dengan jabatan, tak lama kemudian kehilangan posisinya.
Sombong dengan hartanya, mulai datang kemiskinan.
Sombong dengan dengan pemikirannya.. lalu Alloh jadikan ia menjadi orang yang tersesat.
Sombong itu amalan yang berat..
Badan kita tak akan sanggup membawanya.
Hanya Alloh yang mampu melakukannya.
Dalam hidup bersosial di bumi ini, akan jadi sakit nikmat dan nyaman ketika kita tidak merasa yang paling benar sendirian.
Benarnya kita bisa jadi salah di mata orang lain.. demikian pula sebaliknya di sisi mereka.
Hanya Alloh yang paling benar..
Hindari berdebat dengan niat menjatuhkan.
Hindari berpendapat dengan niat menunjukkan bahwa orang lain itu bodoh dan tak berilmu.
Imam Syafi'i Rahimahullah Ta'ala konon pernah berkata..
“Pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Dan pendapat selain ku itu salah, tapi bisa jadi benar”.
Untuk diri sendiri jalankan yang kita yakini.. tapi di saat yang sama, hargai pilihan orang lain, sebab bisa jadi mereka yang benar.
Jangan pula mudah menyebut orang lain berdosa hanya karena satu pilihan yang tidak sama dengan kita.
Malah doakan.. semoga itu tidak dosa selama sesuatu itu ditentukan dengan niat mencari kebaikan. Semoga itu tergolong ijtihad.
“Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia berhak mendapat dua pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah, maka ia mendapat satu pahala”[HR. Bukhari Muslim]
Tunjukkan bahwa kita adalah suatu kaum yang maju peradabannya dengan menghargai perbedaan, menerima perbedaan dan menghormati pilihan yang berbeda.
Semua pasti ingin dirinya yang paling benar. Tapi ingat, orang lain juga ingin hal yang sama. Dan salah satu cara menikmati kebenaran itu sendiri adalah dengan tidak memaksakannya.