Dulu.. ada seorang pemimpin yang memanggul sendiri gandum di punggungnya untuk membantu seorang janda yang kelaparan beserta anaknya.
Ia melarang ajudannya membawa bahan makanan tersebut karena ia sadar betul, itu tanggung jawabnya. Dan kelak di yaumul hisab di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, ia ingin menjadikan hal tersebut sebagai wasilah ringannya hisab beliau sebagai pemimpin.
Beliau adalah 'Amirul Mu'minin, Umar Ibnul Khoththob Radhiallahu'anhu.
Tapi ini bukan settingan.
Ini bukan pencintraan.
Hari itu.. beliau tidak membawa kamera.
Tidak pula mengundang wartawan.
Dilakukan di malam hari di saat banyak penduduk tertidur lelap.
Bahkan yang ditolong sekali pun tak mengenal siapa sosok yang menolongnya.
Semua natural. Apa adanya.
Ikhlas lillaahi ta‘aalaa.
Kenapa beliau begitu??
Ada 2 hal yang setidaknya jadi sebabnya..
1. Punya rasa takut kepada Alloh Azza wa jala yang teramat besar.
2. Punya rasa malu kepada Alloh dan juga kepada makhluk.
Karena kesusahan rakyatnya adalah aibnya. Hal itu tak layak dipertontonkan.
Biarlah itu menjadi rahasianya dengan Alloh saja.
Tapi kalau ditanya yang sekarang angkat-angkat bantuan dengan full kamera..??
Butuh disorot baru action.
Entahlah apa motifnya. Saya tidak tahu.
Semoga benar-benar karena rasa takut kepada Alloh, dan karena punya rasa malu.
Meski saya yang melihatnya yang malah ikutan malu.
Ternyata benar nasihat guru saya dulu.
"Ajarkanlah anakmu rasa malu sebelum belajar memegang amanah."
Karena tanpa rasa malu, mereka yang diberi amanah tidak akan pernah menganggap penting apa yang disebut dengan pertanggungjawaban.
Dan jika para pejabat sudah tak lagi punya rasa malu.. maka hasilnya rakyat akan susah dan menderita.
Kalau pejabat tak punya rasa malu..
Mereka merasa bisa membodohi siapa saja.
Merusak apa saja. Bahkan makan dari sumber yang mana saja. Tak lagi takut yang haram. Yang penting hidup senang. Masa bodoh rakyat susah, miskin dan kelaparan.