Setelah ragam cerita dilalui. Setelah semua hiruk pikuk dilewati.., saya akhirnya menyadari, bahwa teman terbaik itu adalah istri.
Saya belajar.. bahwa tempat yang paling bisa saya tuju untuk mengungkapkan semua kejujuran pahit adalah istri.
Saya merasakan.. bahwa yang paling membuat saya rindu untuk pulang ke rumah..?? sebab di rumah ada istri.
Seseru apapun pertemanan kami para laki-laki di luar sana, saya tetap harus mengakui... tidak ada keseruan yang lebih jujur dan alami kecuali dengan istri.
Tanpa settingan, tanpa drama.
Bahkan, kisah kegagalan pun bisa diterima dengan baik oleh istri. Yang padahal, di hati saja.. tak jarang ada rasa khawatir untuk cerita ke orangtua atau teman. Takut dengan ragam reaksi mereka.
Istri itu ibarat malam yang memberi ketenangan. Menghilangkan rasa lelah setelah kepenatan siang.
Sejak semua kesadaran itu muncul..
Saya akhirnya memaksa diri.
Sehebat apapun saya melayani tamu, saya harus lebih hebat lagi melayani istri.
Seasyik apapun saya bermain dengan teman-teman, harus lebih asyik lagi ketika saya bermain bersama istri.
Ada sebuah nasihat yang pernah saya baca berbunyi..
"Jika kamu membahagiakan istrimu, maka kebahagiaan itu akan kembali kepadamu. Jika kau membuat istrimu sedih, maka kesedihan itu juga akan kembali kepadamu."
Cukup bisa dipahami pada akhirnya..
Karena yang membuat rumahmu nyaman dan tidak, bukanlah isi dan ukurannya.. melainkan dengan siapa kamu menghabiskan waktu bersama di dalamnya.
Istri yang kau perlakukan dengan baik, akan selalu bisa membalas kebaikanmu lebih baik lagi.
Kau berikan dia rumah, dia akan memberimu tempat pulang.
Kau berikan dia harta, dia akan memberikanmu makanan hangat dan kebutuhanmu selama di rumah.
Bahkan setetes mani yang kau berikan padanya pun akan ia kembalikan menjadi seorang bayi lucu (dengan izin Alloh) yang kelak jadi wasilah syafa'atmu.
Tapi keburukan yang kau berikan padanya.. bersiaplah pula, bahwa ia juga akan bisa mengembalikan keburukan yang jauh lebih sakit daripada itu.
Rasulullah Shollallahu'alaihi wassallam bersabda, yang diriwayatkan oleh Al Hakim secara marfu':
خُلِقَتِ الْمَرْأَةُ مِـنْ ضِلَعٍ، فَإِنْ تُقِمْهَا تُكْسِرْهَـا فَدَارِهَا، تَعِشْ بِهَا
“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk; jika kamu meluruskannya, maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.”
Pesan Edited 20.05 WIB:
Tambahan setelah membaca komentar.
Kawan-kawan yang dirahmati Alloh.. Saya menanggapi secara umum.
Beberapa kawan-kawan komentar seputar
"Tidak semua laki-laki begini.."
"Takdirnya tidak seperti saya.."
Subhanallah..
Kawan, saya dan istri tidak langsung sempurna. Kami belajar. Kami berproses.
Kami mengalami layaknya semua rumahtangga. Pasang surut. Miskomunikasi.
Ngontrak pindah-pindah. Tak mampu beli 1 tabung gas pun. Punya uang yang hanya cukup beli 1 butir telur untuk makan anak.
Jualan di pinggir jalan untuk makan.
Kami tidak langsung baik..
Semua berjalan berbanding lurus dengan upaya kita belajar dan memperbaiki diri.
Dan kuncinya. Keduanya harus sama-sama belajar. Sama-sama kembali ke Alloh.
Sama-sama bersyukur dan mulai meniti jalan takwa bersama.
Nanti Alloh baikkan semuanya dengan caraNya. Tapi di awal..
Butuh kerja keras memperbaiki diri sampai seolah ingin berhenti karena saking beratnya.
Intinya sabar.. dan mau belajar.
Alloh tak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya.