Saat saya masih kecil.. Ada salah satu hal yang saya belajar dari ibu saya. Beliau kalau sedih..
Entah mungkin karena berantem kecil dengan bapak. Atau kecewa sama perilaku orang lain..
Yang saya lihat dari ibu adalah..
Seringkali baju-baju di lemari dikeluarkan. Terus disetrika, padahal masih rapi.
Atau kadang beliau nyuci..
Sambil sesekali netes air mata.
Saya tanya.. "Kenapa bu?"
Beliau kadang cerita.. kadang tidak.
Tapi tangan tetap bekerja.
Belakangan saya baru tahu setelah belajar dari banyak literatur. Bahwa ternyata.. mengerjakan sesuatu itu punya dampak besar secara psikologis.
Tubuh yang bergerak akan memicu dihasilkannya hormon endorphine yang bisa mempengaruhi kebahagiaan. Dan ini menyehatkan mental.
Oo pantes.. banyak wanita-wanita zaman dulu kalau lagi sedih, biasanya terus bersih-bersih kamar mandi, nyapu pekarangan.
Ngepel lah.. nyuci lah.. setrika lah.
Ini mengurangi sedih ternyata.
Kalau sekarang..?? Sedih update status.
Bukannya bahagia malah tambah galau.
Hehehehe..
Maka dari itu..
Kalau kamu sedang sedih.. bekerjalah untuk mengurangi sedihmu.
Kalau kamu sedang menganggur.. kerjakan apa saja yang saat ini bisa kamu kerjakan. Jangan diam.
Kalau kamu sedang kecewa.. tetaplah bekerja agar kekecewaan itu tidak membesar.
Karena ketika engkau berhenti bekerja.
Berhenti mengerjakan sesuatu.
Berhenti beraktivitas.
Kamu akan semakin menyesalinya saat nantinya mendapati hidupmu tidak menghasilkan apapun.
Dan itulah yang semakin memperburuk mental.
Kakek saya dulu pernah mengatakan..
"Sing gelem obah, atine bungah.."
(Yang mau bergerak, hatinya bahagia)
Dalam dunia barat ada istilah, "Emotion is created by motion". (Emosi/ semangat dihasilkan dengan bergerak)
Pepatah Arab mengatakan.. "Al Harokatu, Barokah." (Bergerak itu berkah)
Makin males.. Makin lemes.
Yuk ikhtiar lagi..!