Memang benar bahwa hidup itu penuh dengan ujian. Dan secara umum, ujian itu terbagi jadi dua saja.
Diuji dengan kekurangan.
Atau diuji dengan kelebihan.
Ujian Kekurangan output-nya adalah sabar.
Ujian kelebihan output-nya adalah syukur.
Sayangnya.. banyak yang senang dan mengharapkan jika diuji, diuji saja dengan keadaan yang lebih.
Kebanyakan beranggapan bahwa diuji dengan kelebihan itu mudah.
Padahal kenyataannya.. justru sebaliknya.
Bahkan terkadang, sabar jauh lebih mudah daripada syukur.
Ibu-ibu lihat gamis cakep banget.. tapi lagi gak punya duit. Maka pilihannya cuma bisa sabar.
Terlalu banyak orang yang mampu sabar sebab kadang tak punya pilihan harus bagaimana lagi. Udah mentok.. dan akhirnya menyerah dan bersabar.
Tapi tidak dengan syukur.. syukur itu susah. Karena jika nikmat sedang di tangan.. kita terlalu punya banyak pilihan untuk bertindak.
Saat sempit nggak bisa kemana-mana. Tujuan kakinya hanya tahu langkah ke masjid.
Begitu ada harta..?? tujuan kakinya bisa ke mall, tempat makan, ke luar negeri dan banyak lagi sampai kadang lupa jalan kembali ke masjid.
Hingga tak heran sampai para alim, kyai, ustadz, Da'i.. kalau ceramah selalu diawali dengan mengingatkan tentang syukur. Ayat Qur’an pun bertebaran perihal anjuran syukur.
Karena syukur memang sesulit itu.
Dan terlalu banyak orang sholeh yang jatuh karena masuk dalam Ujian Kelebihan.
Lalu bagaimana cara bersyukur??
Sayangnya saya juga masih belajar. Tapi ada 1 hal yang bisa saya bagikan agar kita bisa belajar bersyukur. Yaitu selalu merasa tidak pantas atas apapun pemberian Alloh ﷻ.
Maka mau banyak, mau sedikit.. harusnya sudah berterimakasih kepada Alloh.
Dikasih saja itu sudah bagus. Wong sebenarnya kita ini belum layak dan belum pantas untuk diberi.