Kemuliaanmu tidak diukur dari seberapa banyak orang yang mengenalmu. Bukan juga ditentukan dari banyaknya orang yang memujamu.
Kemuliaan kita tidak ditentukan dari seberapa bagus jubah yang kita punya. Atau seberapa banyak kendaraan yang tersimpan di garasi rumah.
Alloh tidak meletakkan ukuran kemuliaan pada perkara-perkara yang demikian.. sebab itu bisa didapatkan oleh siapa saja.
Bahkan tak sedikit yang memperoleh semua itu dengan cara-cara keji, terlarang, dan penuh tipu daya.
Kemuliaan itu ditentukan dari seberapa hatimu mau merendah di hadapan Alloh.
Seberapa tunduk hatimu kepada keputusan Alloh.
Semakin tunduk atas ketetapan Alloh.. itulah Kemuliaan. Semakin merendah di hadapan Alloh, itulah Kemuliaan.
Karena orang yang sudah tunduk dan ridho kepada Alloh.. ia tak lagi risau dengan semua tampilan.
Baginya miskin adalah keadaan sementara.
Sakit juga keadaan sementara.
Susah juga keadaan sementara.
Bahkan senang, kaya, sehat.. semua pun sementara.
Sehingga semua hal itu tidak merisaukannya. Hari ini mungkin berantakan, tapi besok insyaallah akan kembali teratur seperti yang sudah-sudah.
Sebaliknya.. yang hari ini rapi dan teratur, mungkin suatu saat akan berantakan.
Semua hanya sementara..
Orang yang hatinya ridho dengan semua itu, itulah hamba yang mulia.
Sebab dirinya tidak lagi penting. Baginya, yang penting adalah Alloh dan ketetapanNya. Inilah yang dinamakan Abdulloh. HambaNya Alloh.