Pada akhirnya.. semua orang akan mau menerima nasihat.
Jika tidak bisa melalui KATA, Alloh Azza wa jala akan memaksanya menerima nasihat lewat PERISTIWA.
Kalau lewat nasihat lembah lembut dari lisan atau tulisan tak juga kunjung membuat berubah. Nanti dibuat ngalami sendiri agar bisa dapat hikmah.
Dan percayalah..
Kalau nasihat sudah berwujud peristiwa atau kejadian. Itu lebih menyakitkan.
Dinasihati dengan kata..
Seperih-perihnya, paling hanya sakit hati atau kuping panas.
Tapi kalau sudah lewat suatu peristiwa..
Subhanallah..
Yang sakit bisa seluruh badan. Bahkan tak jarang disertai harta ikut hilang.
Tak berhenti di situ.. di sebagian kejadian pun, tak sedikit yang harkat martabatnya ikut hancur berantakan. Dan jatuh serendah-rendahnya.
Maka guru saya dulu berpesan..
Bahwa benar untuk tidak mendengarkan semua omongan orang jika omongan itu adalah perkataan yang menjatuhkan semangat dan menjatuhkan harga dirimu.
Namun jika perkataan itu adalah nasihat yang bersumber dari Qur'an dan sabda Rasulullah Shollallahu'alaihi wassallam, dan terlebih dibawakan oleh 3 orang ini ;
Yakni, orangtuamu, gurumu atau keluarga dekatmu (suami, istri dan anak), pantasnya engkau menjadikan nasihat itu sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan berikutnya.
Bisa jadi.. itu adalah petunjuk dari Alloh.
Dan jika memang ternyata benar, maka kerjakan.
Sebelum Nasihat KATA berubah jadi PERISTIWA.
Ibarat dikasih tahu di depan ada tembok, tapi nggak mau nengok. Begitu ketabrak.. begitu bonyok. Eh.. baru mau belok.
Badan udah terlanjur sakit, harta sudah terlanjur hilang. Ditambah malu karena tak mau mendengar peringatan orang hanya karena gengsi merasa benar, merasa bisa dan merasa banyak pendukungnya.
Begitulah..